KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    20.7.06 | 10:17
    ASI & Laktasi di Kantor
    Kerepotan kaum ibu yang belum bisa dioper ke ayah — bahkan misalkan pria bersedia.
    botol susu KALAU dikerucutkan soal ini bisa menjadi gugatan moral. Mana yang lebih perlu: ruang 18 m2 untuk perokok atau ruang khusus untuk menyusui [misalkan ada yang bawa bayi] dan menampung air susu ibu berikut perlengkapannya?

    Ada karyawati yang harus ngumpet di bilik pancur [eh, shower gitu] untuk menampung sumber gizi si bayi. Ada yang mencoba di pantry, tapi di situ ada bau rokok, lagi pula kebersihan dan kenyamanannya tak seperti foto di majalah interior. Ada juga yang memanfaatkan ruang perpustakaan untuk memerah diri, sambil pasang tulisan di pintu.

    Memerah diri di toilet, kata seorang karyawati, merupakan sebuah keterpaksaan. Dia andaikan, orang yang menenteng makanan saja enggan masuk toilet, apalagi makanan untuk bayi.

    Menyusui dan memerah di tempat yang terlihat umum tentu kurang sopan. Air susu menetes karena sudah jadwalnya untuk disusu tentulah tak nyaman. Ini bukan soal saru untuk didiskusikan. Ini persoalan semua orang. Lelaki pernah menjadi bayi dan disusui ibundanya — kecuali manusia kera sakti yang lahir dari batu — dan setelah dewasa sebagian dari mereka menjadi ayah.

    Kembali kepada gugatan moral, jawaban cengengesan kaum perokok tentulah kedua ruang itu sama-sama perlu. Saya tak tahu apakah ada peranti hukum yang mewajibkan gedung tinggi dan pabrik menyediakan ruang laktasi.

    Jika debatnya menyangkut berapa jumlah perempuan dalam sebuah kantor, maka akan berbalik seberapa banyak jumlah pecandu nikotin [termasuk saya dan wanita perokok].

    Jika debatnya menyangkut mahalnya ruang dalam bisnis properti, entah ke mana arah jawaban. Anda punya saran atau info lain yang bisa dibagi?

    © Ilustrasi: Resource NSW



    19.7.06 | 15:26
    Air dan Minum
    Berapa banyak sekolah yang sediakan air putih gratis?
    air kemasan dalam gelas

    HARI panas, hari dingin, kita butuh minum. Bulik Lita yang gemar berbagi info kesehatan, dan Bu Dokter Siberia yang doyan bola, bisa menjelaskan kenapa kita harus minum. Saya termasuk peminum dalam pengertian air putih — bukan yang lainnya — tapi dalam ukuran yang menurt saya normal.

    Mobil Fahmi Jelek di Surabaya juga berisi air kemasan dalam gelas plastik. Sungguh mulia. Semula niatnya untuk mempermudah buka puasa di perjalanan. Tapi setelah Lebaran lewat, kebiasaan berbekal minuman masih diteruskan. Antara lain untuk diberikan kepada anak-anak jalanan yang mengemis. Miss Mbakyu Teteh Mpokb mungkin memilih memberikan kue.

    Hari-hari panas, hari-hari dingin, ketika kepala meledak dan hati mendidih dalam serangkaian rapat, minuman semakin diperlukan. Celakalah perokok yang harus ngempet tagihnya.

    Tapi memadaikah jumlah gelas minuman, padahal ruang rapat terpisah tak menyediakan dispenser? Selalu ada kabar baik bagi orang optimis. Ada saja orang lain yang tak mudah haus. Jatah minumannya bisa kita ambil.

    Persoalannya ada pada keran. Yang namanya air, bahkan air minum dari perusahaan air minum, tak layak kita minum langsung. Berapa banyak pengeluaran kantor dan rumah tangga untuk membeli air kemasan yang dinamai air mineral itu?

    Membeli air putih: tak terbayangkan, dan belum terjadi, waktu saya masih bocah. Air putih boleh minta gratis dari teman-teman, dan saudara, di sekitar sekolah. Sekarang ketika sekolah maju dan mahal bermunculan, air putih gratis belum tentu tersedia.

    Selamat datang, kemarau! Kita sambut tanpa merasa berutang air kepada tanah. Kita biarkan air hujan menuju laut, tiada niat mengganti air pencuci mobil, lantas kesempatan itu diambil oleh air asin untuk mengintrusi sampai ke bawah tanah tengah kota.



    18.7.06 | 01:12
    Surabaya #3: Saya Memang Jawa Tanggung
    Mampir ke pergelaran wayang kulit di Taman Budaya Jawa Timur.


    TIGA kali saya bertanya, kepada tiga orang, dan saya lupa siapa dalang itu. Lebih wagu lagi: saya tak menanya apa lakon malam itu. Yang saya ingat justru nama Mbah Lin [sependengaran saya begitu], juru parkir sepuh yang pakai anting.

    Kang Mbilung akan tertawa. Paman Patih Blonthank akan terharu. Ya, ya, ya, saya memang wong Jawa yang nanggung karena tak paham wayang apalagi hapal tokohnya. Satu dari sedikit yang saya ingat, lantaran terkesan, adalah Drustajumna. Dia jarang disebut, padahal dialah yang membunuh Durna.

    Dengan segala sifat nanggung, saya mendapati pakeliran sudah berubah. Kelir berarti geber atau lawon, atau kain pemampang proyeksi bayangan wayang.

    Di pendapa Taman Cak Durasim, Surabaya, itu saya menyadari perubahan. Bagian depan, maksud saya bagian di balik layar aksi dalang, bukan lagi tempat untuk menonton. Padahal inti penikmatan wayang kulit, kalau saya tak keliru, justru pada bayangan. Bukan melihat aksi dalang dari belakang punggungnya.

    Makin sedikit rumah besar Jawa yang punya pringgitan, tempat untuk menanggap wayang. Makin sempit pelataran yang memungkinkan pergelaran wayang kulit dengan tampungan penonton berlimpah. Televisi, dalam hal ini Indonesiar, dulu semakin memampatkan itu: akan konyol jika tayangan berjam-jam hanya menampilkan bayangan di layar, tanpa tunjukkan kancing sèndèr beskap Ki Dalang.

        

    Di pendapa Cak Durasim itu wilayah di seberang Ki Dalang berisi steger pengalang pandangan. Hanya lima orang yang menonton di situ. Selebihnya menjadi penonton yang menyaksikan punggung Ki Dalang dan jejeran pesinden dari SMKI.

    Sudah lama teknologi elektronik memasuki pakeliran. Lospeker Toa yang diikat di pohon kelapa tak lagi memadai. Boks spiker besar, yang diperantarai mixer berbanyak saluran, telah menggantikan Toa pohon, seiring spot halogen mengganjal bléncong [lampu minyak penerang layar].

    CMIIW, bagi saya adopsi teknologi itu nanggung. Masih banyak dalang yang memakai mikrofon bertali rafia yang dikalungkan pada leher. Bukan memakai mikrofon nirkabel. Sesekali asisten membetulkan ikatan rafia itu. Kelak, para dalang akan seperti MC dan penyanyi: punya Shure sendiri yang dibawa ke manapun ditanggap. Semata demi kualitas suara.

    Ah, apalah artinya alat. Yang penting niat. Juga pengabdian. Dengan bendera "nguri-uri kabudayan Jawi". Namun saya membayangkan alangkah hebatnya dalang pra-tata-suara elektronik: kemampuan vokal dan nilai akustik pendapa.

    Semua lamunan gombal itu tak penting. Lebih penting menikmati kacang rebus di pelataran, sambil menonton tukang gambar potret beraksi. Selebihnya adalah kembali ke wilayah di seberang Ki Dalang.

    Saya menyorongkan lensa kamera kuaci di antara gedebog pisang tancapan wayang dan tepian kelir. Was-was juga kalau lensa saya akan disabet Ki Dalang.

    Ya, Ki Dalang gondrong yang mengacungkan amplop honor untuk melucu dan meledek Bambang SP, pemuka taman budaya yang membawa murid-muridnya dari SMKI Surabaya sebagai pesinden.

         

    Pesinden belia yang kuat duduk bertimpuh, ditemani sebaki teh nasgithel [panas, legi, kenthel] bersedotan dan Aqua dalam kemasan gelas plastik pelengkap nasi kotak. Mereka menembang dengan membaca buku tulis, suatu hal yang mungkin tak dilakukan ibunya Mayangsari Trihatmodjo.



    17.7.06 | 22:28
    Surabaya #2: Catatan Malam Wong Ndesit
    Ada rumah menjadi jembatan penyeberangan...
    "SEPERTI Yogya," saya membatin. Surabaya selewat pukul sembilan malam masih ada cewek naik motor. Dan Sabtu malam adalah tebaran kelompok bersepeda motor, juga klub mobil, di beberapa sudut. Kadang mereka membelah jalanan.

        

    Sejauh saya temui tak ada kelewang terayun dari peserta konvoi untuk meminta orang lain menepi, suatu hal yang pernah terjadi di Yogya, saat [dulu] kolong jok motor beberapa pemuda butek — yang membanggakan kesintingan dan mendambakan kekisruhan — berisikan senjata tajam. Di Surabaya, malam itu, razia polisi hanya memeriksa surat, tanpa perintah membuka jok.

    "Tak seperti Jakarta," saya membatin. Tebaran ranjau pengempis ban motor dan mobil belum saya jumpai di jalan sepi. Tapi sebagai warga Jabotabek saya tetap ndesit, gumun melihat kasir SPBU memakai LCD. Tiga tahun lalu, ketika SPBU Jakarta belum bisa mencetak bon, SPBU di Cikampek sudah lebih dulu bisa.

    "Tak seperti Jakarta," lagi-lagi saya membatin. Beberapa jembatan penyeberangan, bahkan pada malam hari, tak menyeringaikan ancaman. Bahwa bau pesing menguar di sudut, ah... jejak mamalia bernama manusia dari jenis kelamin jantan itu juga ada di beberapa kota negeri maju. Tapi sekadar catatan, di luar soal hajat, kencing sembarangan adalah cara binatang, termasuk anjing, untuk menandai teritori.

    "Bapak orang Jakarta?" tanya sopir taksi. Saya jawab bukan. "Tapi datang dari Jakarta?" dia meralat. Saya meng[i]yakan. Dia geli, karena begitu memakai ponsel saya langsung mengunci ketiga pintu yang tak tersentral itu. Orang Jakarta selalu begitu, katanya.

    Surabaya, dalam persepsi lama saya, adalah kota yang panas dan keras. Dalam beberapa urusan terbukti, tapi dalam urusan lainnya selalu terbantahkan. Keterusterangan, keblakblakan, dan egalitarianisme, adalah satu hal. Kekerasan adalah hal lain, tergantung kasusnya.

    Itulah kultur arek sejauh saya tangkap. Di Jawa ada satu-dua kota yang premannya bertutur kata halus. Sedikit bicara banyak tikam, kata teman saya. Santun di mulut, bengis di tindakan.

        

    Surabaya adalah kepercayaan diri. Di pelataran sebuah mal kelas menengah, kesan selintas saya menangkap sebuah keceriaan dari mereka yang hanya datang untuk bercengkerama di luar karena ongkos dimsum maupun ngopi di dalam mal melebihi takaran upah minimun regional. Ya, di mal yang gerbang baratnya mengingatkan pada film kungfu, karena ada logo besar beladiri dengan tulisan [latin] vertikal pada kedua pilar.

    Tak ada buang muka atau niat berlindung di balik bayang temaram untuk menutup malu karena tak sanggup menikmati sajian di dalam. Mal, plaza, atau apapun namanya, telah menjalankan fungsinya sebagai ruang publik untuk semua orang, termasuk berekreasi tanpa berbelanja dan tanpa mengudap dim sum.

    Eh, ruang publik? Sepenggal trotoar pernah terlihat ramai, karena pelintas ingin melengok pentas jazz di sebuah tempat yang menamakan diri sidewalk cafe. Malam berikutnya tiada pelongok dari luar pagar, padahal band dengan funky thumb bassist sedang sebisanya mengemas ulang Superstition Stevie Wonder, tapi brass section cukup digantikan oleh synthesizer. Yang gratis belum tentu menarik.

        

    Di sisi lain, yang enak dan nyaman belum tentu mahal. Kedai 24 jam di sudut Stasiun Gubeng sajikan nasi krèngsèngan, ayam penyet, dan lainnya. Harga makanan mulai Rp 6.000-an. Setiap hari pelayannya berganti seragam yang ditaja pabrik rokok berlainan merek. Anak muda, orang tua, dan keluarga dengan bocah, silih berganti mengudap. Pada jam tertentu tukang parkirnya adalah seorang ibu.

    Kembali ke jembatan penyeberangan di tengah kota. Malam itu dua sejoli aman-aman saja berdempetan sambil bermain ponsel. Tanpa gangguan dari pemalak, selain orang tak tahu diri yang enak saja mendekat dan memotreti. Fotografi gombal, kadang, juga berarti kekurangajaran.

    Jembatan penyeberangan yang kokoh dan bersih. Tukang rokok menjadikan kolongnya yang berpintu jeruji sebagai ruang keluarga dengan TV menyala. Dia juga yang mesti mengguyur pipisan pesing saban malam. Saya tak tahu apakah fitur koran setempat pernah menceritakan kehidupan di bawah jembatan penyeberangan, tak jauh dari Gedung Grahadi itu.

         

    NB: mohon pemakluman untuk foto-foto kabur dan fokus yang salah — gak usah protes, cak!



    Previous Page * * Next Page
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive