KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    5.2.04 | 17:03
    Pelacuran? Legalkan Sajalah...
    Ketimbang repot harus selalu hidup dalam hipokrisi, dan ada main hakim sendiri dengan pengerahan laskar, saya menganggap lebih baik pelacuran dilegalisir sajalah.

    Tentu kudu ada regulasi yang jelas sekaligus dewasa. Soal tempat misalnya, harus dibatasi. Kalaupun melayani panggilan, nggak boleh menjalankan profesinya di tempat kost atau rumah nyokapnya.

    Lebih dari itu, yang namanya pelacuran anak-anak hars tetap dilarang. Perdagangan wanita juga tetap dilarang.

    Lha apa bedanya pergermoan dengan perdagangan wanita? Beda dong. Pergermoan itu mestinya ya semacam manajer artis. Si pelacur bekerja karena kemauannya sendiri, bukan karena diculik, ditipu, diperbudak, seperti lazimnya praktek perdagangan wanita.

    Yang paling bagus sih setiap pelacur bekerja mandiri. Kayak freelancer gitu, nggak punya majikan, nggak ada mucikari.

    Akhlak masyarakat gimana? Yang menganggap itu dosa dan haram ya jangan jajan, jangan ikutan menjajakan diri.

    Menyewakan tubuh dan genitalia apa salahnya sih, sepanjang itu atas niat si pemilik tubuh?

    Kalau memperkosa, atau melecehkan wanita, itu dosa, itu melanggar hukum. Apalagi menjual wanita secara paksa.

    Inilah repotnya kalau kita munafik fik fik fik...



    4.2.04 | 01:38
    Calon Senator, Calon Presiden, Silakan Berdebat di Kampus
    Tak semua kalangan perguruan tinggi mau menerima para politisi untuk berkampanye di kampus.
    Alasannya, agar kampus tetap netral.
    Tapi buat saya, netral tidaknya kampus tak didapat dengan menolak politisi -- semulia atau sebusuk apapun mereka.

    Kalau mereka mau datang, ya sediakan saja tempat dan waktu.
    Syaratnya: jangan bawa massa, apalagi satgas (toh setiap kampus punya satpam dan hahahaha... menwa!).
    Cukup datang 5 orang (paling banyak).
    Tak ada kewajiban moral maupun dinas rektor, dekan dan dosen untuk hadir.
    Penonton hanya dari kalangan dalam, orang dari kampus lain nggak boleh nonton.

    Para pilitikus silakan berpidato dan melayani debat.
    Pidatonya cukup 15 menit, debatnya 2 jam (kalau penontonnya mau).
    Demo? Boleh.
    Caci maki buat politikus? Itu risiko buat mereka.



    29.1.04 | 21:41
    Welcome Majalah Pria Dewasa!

    FHM Indonesia sudah.
    Lalu Maxim, Playboy, Penthouse, Men Only & Hustler Edisi Indonesia?
    Biarin aja!

    Merusak akhlak. Mendorong degradasi moral. Uhui! Kok gitu sih? Inilah kekhawatiran sebagian orang ketika FHM edisi Indonesia terbit. Nanti akhirnya bakal disusul Playboy dan akhirnya Hustler -- atau malah Screw sekalian.

    Buat saya no problemo lah. Itu kan memang buat orang dewasa. Yang belum dewasa dilarang baca.
    Pengemasan dan penjualan itu majalah dikontrol sedemikian rupa. Jadi kayak di Barat, penjual yang mempertujukkan kepada anak bawah umur berarti melakukan kejahatan. Untuk jenis majalah yang rada hot atau hot banget, dilarang mejeng di kios atau lapak dekat SD dan sebagainya. Model yang tampil kudu 18 tahun ke atas.

    Cuma itu? Nggak. Mereka yang nggak suka baca punya hak untuk menjauhi majalah macam itu.
    Mereka punya hak untuk mengenyahkannya dari rumah mereka.

    Mereka yang suka dan doyan, punya hak buat mengoleksi. Tapi kalau menunjukkan kepada anak kecil mereka akan dikriminalisasikan. Kalau memamerkan di tempat yang tak semestinya, mereka akan menerima sanksi sosial.

    Tugas ulama dan pendeta yang ngingetin umatnya bahwa majalah kayak gitu adalah percabulan, adalah dosa, karena itu jangan dibaca. Bagi saya itulah menjalani kehidupan beriman secara dewasa.

    Nggak usahlah bikin front ini-itu, laskar anu dan anu, pakai bambu runcing atau tongkat segala, lantas menyerbu kantor Redaksi.

    Lantas pasal KUHP yang konservatif itu gimana? Ya direvisi dong!

    Apakah saya pembaca setia FHM edisi manapun? Bukan. Sama sekali bukan. Bahkan FHM Indonesia pun hanya saya baca edisi perdananya saja. Tapi saya menoleransi majalah untuk orang dewasa, dengan segala aturan mainnya.




    29.1.04 | 19:08
    Meski bukan Penjudi, Saya Setuju Legalisasi Judi
    Judi? Silakan saja. Dilegalkan saja sekalian. Pemerintah bisa ngambil pajak. Bikin saja resort, kalau perlu di pulau, yang isinya kasino dan sejenisnya, pokoknya tanpa lotere yang mengundang perbuntutan dan bandar liar.

    Saya sebetulnya kurang bersetuju dengan togel dan buntutan yang pakai bandar liar. Tanpa pajak resmi, cuma nyedot duit orang kecil saja, buat memperkaya para bandar.

    Tapi kalau toh misalnya pemerintah mau bikin lotere-loterean ya silakan aja. Sekalian yang murah meriah. Kalaupun ada togel ya biarin. Mau miskin akibat judi, ya salah sendiri.

    Dalam logika orang miskin, kalau dia nggak beli lotere maka tak ada peluang dan harapan buat berleh rezeki nomplok.
    Dengan membeli kupon, mereka telah membeli peluang (sekecil apapun). Mereka membeli harapan. Mereka membeli impian. Hanya dengan itulah dia punya dorongan buat melanjutkan hidup dari hari ke hari.

    Dosa? Haram? Memang.
    Tugas rohaniwan ya ngingetin umatnya bahwa itu haram dan dosa. Yang namanya hidup beriman kan memang harus tahan godaan, kan?

    Kalau semua godaan harus dienyahkan, sehingga terwujud dunia yang steril, ya itu namanya bukan beriman yang dewasa.

    Tapi mungkin ini pendapat yang berbahaya ya?

    Yah, saya kembali ke pendapat awal saja. Legalisasikan hanya judi yang tersisolir, untuk orang kaya, tanpa lotere-loterean.
    Setiap perbuntutan dan pertogelan digebah saja. Tapi polisinya kan korup, lagian bandar gelapnya kan punya beking?
    Waduh, pusing nih....



    Previous Page * * Next Page
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive