KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    22.7.06 | 11:37
    Warotel: Warung Rokok Merangkap Wartel
    Jangan-jangan Anda sudah lupa kapan terakhir kali menggunakan telepon umum.
    warung rokok wartel

    SUDAH 20 tahun Mamang Kuningan berjualan rokok di situ, di pinggir sebuah jalan di Jakarta Barat. Selalu 24 jam dia buka warung. Sudah dua minggu dia merangkapkan bisnis wartel atas tawaran PT Telkom.

    "Kata orang Telkom, kalo bikin telepon umum di pinggir jalan itu cepet rusak, nggak ada yang ngejagain," ungkap si Mamang. Dari setiap perolehan Rp 100.000 si Mamang akan mendapatkan komisi Rp 10.000. Tapi selama dua minggu berwartel, pendapatan segitu belum tercapai.

    warung rokok dan wartel "Orang-orang belon tau sih," katanya. Padahal sudah ada dua papan nama di warungnya. Yang pertama dari Telkom, seukuran kuarto. Yang kedua bikinan sendiri, dari tripleks. "Mau masang di tiang listrik apa telepon entar dicopotin Tibum," ujarnya.

    Seperti apa sih wartelnya? Tanpa booth karena kios panggung tak beroda itu cuma berukuran sekitar 1,5 m x 1 m. Penelepon berhalo-halo dari luar kios, sambil berdiri, kepalanya bergesekan dengan bermacam sachet.

    Pesawat telepon Flexi dan pencatat pulsa dengan pemampang LED berada dalam kios, bercampur dagangan. Tak ada pencetak tagihan. Si Mamang cukup menyalin angka LED ke kertas lecek.

    Sebagai langkah bisnis, upaya Telkom ini bagus. Tapi dari segi pelayanan — dengan atau tanpa warotel, dengan atau tanpa pertumbuhan ponsel — telepon umum koin harus tetap tersedia dan terawat, bisa menelepon ke manapun. Lebih bagus lagi juga bisa menerima panggilan dari mana saja.

    Sayang, telepon umum tampaknya semakin tak terurus. Boleh tahu, kapan terakhir kali Anda menggunakan telepon umum koin maupun kartu?

    Link: Nasib telepon umum kelas dunia

    Generic Viagra
    November 21, 2011   01:43 PM PST
     
    It's great to see a blog of this quality. I learned a lot of new things and I'm looking forward to see more like this. Thank you.
    Herry Kasparov
    March 29, 2008   02:05 AM PDT
     
    aku juga lagi nyoba-nyoba bisnis buka warnet, sederhana plus bisa ngrokok & ngopi (warongopnet) di daerah cibinong mas...
    akur
    April 1, 2007   03:47 PM PDT
     
    wah kalo di Mesir tiap toko rokok, makanan pasti ada wartelnya.
    joko
    July 28, 2006   02:00 AM PDT
     
    tak pikir jakarta dah ga boleh ngrokok lagi, harus di smoking area,..

    apa di warotel ada smoking area.. ato wah klo telpon harus habis sebtang rokok bisa.. lamajuga lo.. pulsanya bisa nyamope 25000
    tintin
    July 26, 2006   11:28 AM PDT
     
    di samping pos kamling depan rumah ada telepon koin yang awet dan terjaga banget. selalu ramai pengunjung, apalagi saat-saat akhir pekan, bisa beroperasi hingga dini hari. saking ramenya, sering sampe kepenuhan koin karena banyaknya pengguna.
    dari dulu sampe sekarang sangat berjasa buat ngirit dana pacaran saat sekolah dulu di pertengahan tahun 90'an (hihi), hingga sekarang tetep berjasa kalo mau ngumpulin temen-temen sekolah buat sekedar kumpul-kumpul.
    terakhir pake... tadi malem waktu telepon temen smu.
    kalo banyak telepon umum yang bisa awet dan terjaga kayak itu, alangkah nyamannya hidup... bisa nge-trend lagi, dan gengsi juga jadi naik kan... (^.^)
    ramadhan
    July 25, 2006   09:01 PM PDT
     
    Telepon Umum = No Telp Asing di display Handphone.

    Jadi jangan repot-repot untuk di save segala =)
    Husein
    July 25, 2006   08:47 PM PDT
     
    jangan salah loh, bisnis wartel sampe menyebar ke kuala lumpur.. sekarang banyak banget kios-kios yang menyediakan jasa itu dengan papan tanda bertuliskan "wartel".. padahal itu bukan bahasa melayu nya... hebat,hebat!
    Djony Herfan
    July 24, 2006   04:44 PM PDT
     
    hehehehehe, kapan pakai telepon umum, betul juga ya, kelupaan mengingatnya, .... Padahal, kapan terakhir pakai telepon umum itu pantas diingat, yang terjadi malah pantas dilupakan, .... (mungkin sejak ponsel bisa rutin masuk ke dalam saku?)

    O ya mungkin namanya perlu diubah dari telepon umum jadi "Ponsel Anda Ada di Sini!" Maksudnya sih orang yang lewat di tempat itu mampir lantaran ponselnya, katanya ada di tempat itu, .... (Lagi mikir-in nasib Mamang nih!)
    ono
    July 23, 2006   01:54 PM PDT
     
    Telepone Umum ??!!!!

    Walaahh.... semenjak memiliki telepone genggam tahun 2000 hingga kini ditahun 2006 tak pernah menyentuh telepone umum. enam tahun tak pernah memegang gagang telepone umum bahkan memakainya tetapi sering kali melirik telepone umum tersebut.

    Andaisaja telkom bisa membuat hati ini tersentuh akan telepone umum pastilah keinginan untuk menghabiskan uang logam bisa kulakukan.
    Kenapa hanya melirik telepone umum hingga enam tahun, ini semua karena menunggu perubahan akan wajah kotak mungil tersebut dan menunggu fasilitas yg tersedia.

    //telkom belum bisa menyentuh hati masyarakat//
    aku lelaki biasa
    July 23, 2006   08:59 AM PDT
     
    kreatif juga telkom yoo ... hehehhe
    Qq
    July 23, 2006   12:33 AM PDT
     
    Wah, sejak kenal yang namanya sms dan wartel udh jarang make telpon umum Pakde. Lagian jg udh langka banget telpon umum yang berfungsi baik, jadi bukan karena alasan gengsi. Tapi telpon umum amat berjasa di masa SMP-SMA dulu ... hehehhee... zaman2nya di telponin ama gebetan ... hahahaha
    Leony
    July 23, 2006   12:27 AM PDT
     
    Sejak cellphone merajalela, hampir tiada lagi yang menggunakan telepon umum. Gengsinya turun katanya kalau kelihatan pakai telepon umum di depan teman2. Walaupun duit di kantong kurang dari 10,000 yang penting cellphonenya keluaran terbaru dong (kata temen saya lhooo...)
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive