KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    18.7.06 | 01:12
    Surabaya #3: Saya Memang Jawa Tanggung
    Mampir ke pergelaran wayang kulit di Taman Budaya Jawa Timur.


    TIGA kali saya bertanya, kepada tiga orang, dan saya lupa siapa dalang itu. Lebih wagu lagi: saya tak menanya apa lakon malam itu. Yang saya ingat justru nama Mbah Lin [sependengaran saya begitu], juru parkir sepuh yang pakai anting.

    Kang Mbilung akan tertawa. Paman Patih Blonthank akan terharu. Ya, ya, ya, saya memang wong Jawa yang nanggung karena tak paham wayang apalagi hapal tokohnya. Satu dari sedikit yang saya ingat, lantaran terkesan, adalah Drustajumna. Dia jarang disebut, padahal dialah yang membunuh Durna.

    Dengan segala sifat nanggung, saya mendapati pakeliran sudah berubah. Kelir berarti geber atau lawon, atau kain pemampang proyeksi bayangan wayang.

    Di pendapa Taman Cak Durasim, Surabaya, itu saya menyadari perubahan. Bagian depan, maksud saya bagian di balik layar aksi dalang, bukan lagi tempat untuk menonton. Padahal inti penikmatan wayang kulit, kalau saya tak keliru, justru pada bayangan. Bukan melihat aksi dalang dari belakang punggungnya.

    Makin sedikit rumah besar Jawa yang punya pringgitan, tempat untuk menanggap wayang. Makin sempit pelataran yang memungkinkan pergelaran wayang kulit dengan tampungan penonton berlimpah. Televisi, dalam hal ini Indonesiar, dulu semakin memampatkan itu: akan konyol jika tayangan berjam-jam hanya menampilkan bayangan di layar, tanpa tunjukkan kancing sèndèr beskap Ki Dalang.

        

    Di pendapa Cak Durasim itu wilayah di seberang Ki Dalang berisi steger pengalang pandangan. Hanya lima orang yang menonton di situ. Selebihnya menjadi penonton yang menyaksikan punggung Ki Dalang dan jejeran pesinden dari SMKI.

    Sudah lama teknologi elektronik memasuki pakeliran. Lospeker Toa yang diikat di pohon kelapa tak lagi memadai. Boks spiker besar, yang diperantarai mixer berbanyak saluran, telah menggantikan Toa pohon, seiring spot halogen mengganjal bléncong [lampu minyak penerang layar].

    CMIIW, bagi saya adopsi teknologi itu nanggung. Masih banyak dalang yang memakai mikrofon bertali rafia yang dikalungkan pada leher. Bukan memakai mikrofon nirkabel. Sesekali asisten membetulkan ikatan rafia itu. Kelak, para dalang akan seperti MC dan penyanyi: punya Shure sendiri yang dibawa ke manapun ditanggap. Semata demi kualitas suara.

    Ah, apalah artinya alat. Yang penting niat. Juga pengabdian. Dengan bendera "nguri-uri kabudayan Jawi". Namun saya membayangkan alangkah hebatnya dalang pra-tata-suara elektronik: kemampuan vokal dan nilai akustik pendapa.

    Semua lamunan gombal itu tak penting. Lebih penting menikmati kacang rebus di pelataran, sambil menonton tukang gambar potret beraksi. Selebihnya adalah kembali ke wilayah di seberang Ki Dalang.

    Saya menyorongkan lensa kamera kuaci di antara gedebog pisang tancapan wayang dan tepian kelir. Was-was juga kalau lensa saya akan disabet Ki Dalang.

    Ya, Ki Dalang gondrong yang mengacungkan amplop honor untuk melucu dan meledek Bambang SP, pemuka taman budaya yang membawa murid-muridnya dari SMKI Surabaya sebagai pesinden.

         

    Pesinden belia yang kuat duduk bertimpuh, ditemani sebaki teh nasgithel [panas, legi, kenthel] bersedotan dan Aqua dalam kemasan gelas plastik pelengkap nasi kotak. Mereka menembang dengan membaca buku tulis, suatu hal yang mungkin tak dilakukan ibunya Mayangsari Trihatmodjo.

    sori
    October 4, 2007   11:19 PM PDT
     
    kok jarang ya yang komentar tetang budaya,aku takut kalau kita nanti menjadi tidak berbudaya. budaya kita ini arahnya kemana ya.
    crn
    October 4, 2007   11:13 PM PDT
     
    wis lumayan dr pd tidak
    crn
    October 4, 2007   11:11 PM PDT
     
    wis lumayan to cak ono sing peduli timbangane cuma di dum tok
    crn
    October 4, 2007   11:10 PM PDT
     
    wis lumayan dr pd tidak
    mpokb
    July 19, 2006   07:24 PM PDT
     
    wah, baru di sini nama mayangsari pake nama keluarga..
    bang kere ngaku jawa tanggung, aye mah jawa murtad.. duh..
    kere kemplu
    July 19, 2006   06:05 PM PDT
     
    pro paman patih blonthank:
    DLK? Honor? Halah.
    Santika? Saya ndak nginep di sana.
    Ada-ada saja...
    blonty
    July 19, 2006   05:12 PM PDT
     
    intine cuma singkat, walau uraiannya panjang lebar: DLK plus honor! nginep di Santika, lagi.... (maaf, kalau fasilitas nginepnya ternyata di hotel bir bintang sembilan).

    kapan nonton wayang di solo? setiap malam jumat kliwon ada wayang kulit klasik. jugu suguhan aneka tari klasik jawa pada setiap tanggal 26 malam
    Charly Silaban
    July 19, 2006   03:26 PM PDT
     
    Jangan lupa bawa oleh2 Om... :)
    dhany
    July 19, 2006   10:17 AM PDT
     
    sing dimuat kok photone bokong...
    Mbilung
    July 19, 2006   10:05 AM PDT
     
    Haiyaaaah, tanggung kok milihnya Drustajumna.
    sawung
    July 19, 2006   01:42 AM PDT
     
    Dulu kalo pulang ke tempat alm mbah suka diajak nonton ketoprak. Sayang sekarang sudah jarang kelompok ketoprak yang bertahan. Penoontonnya juga ga ada lagi.

    schadenfreude
    July 18, 2006   11:52 PM PDT
     
    emang sinden namanya musti akhirnya 'ITA' ya?
    Adhi
    July 18, 2006   05:02 PM PDT
     
    Paling tidak, debog pisangnya belum diganti Pak Dhe...
    Sei
    July 18, 2006   03:44 PM PDT
     
    Wah plesiran ke Surabaya ya pakde? :D
    budiw
    July 18, 2006   02:10 PM PDT
     
    tentang sinden,
    yang paling kiri sendiri namanya lita, terus sebelah kanannya rita, sebelahnya lagi, lupa, sebelahnya lagi juga lupa..

    --bduwi
    didats
    July 18, 2006   08:52 AM PDT
     
    iseng tenanan! :))
    budiw
    July 18, 2006   08:49 AM PDT
     
    hahahaha.. lengkap-lengkap. sibb nan tobb. padahal sudah mau saya tagih di postingan blog tanggal 1 agustus nanti..

    cuma mau tanya pak kere, CMIIMW itu apa? bukannya CMIIW? terima kasih telah sudi menjawabnya.

    --budiw
    badu
    July 18, 2006   04:31 AM PDT
     
    dulu waktu kecil suka diajak bapak nonton wayang kulit. tapi selalu ketiduran (sambil mimpi Superman datang dan menantang Gatotkaca balapan terbang). trs suka ngambek kalo nggak dibangunin pas Goro-goro. :)
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive