![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
15.6.06 | 00:44
Mabuk Bola, Cuek Bola Kesenangan -- dan juga kesebalan -- terhadap tontonan sukan tak dapat dipaksakan, kecuali dengan cuci otak. TIBA di rumah, tadi sekitar setengah sepuluh malam, rumah tampak agak sepi. Lampu hanya menyala seperlunya. Karena lagi-lagi bel sudah dirusak oleh tangan jahat, maka saya pun membuka pintu pagar sendiri, dan seterusnya, lalu masuk ke rumah.Wuk, istri saya itu, dan Day, putri saya, sedang nonton bola. Suara TV kurang jelas, tapi suara dua penonton itu yang keras. Itulah sebabnya mereka tak tahu saya sudah tiba. Biarlah, saya takkan mengganggu keasyikan mereka. Membaca bisa disela, tapi kalau TV mana bisa. Emang DVD? Bisa di-pause? Siapa yang lagi tanding saya tak tahu, dan tak peduli. Tapi saya maklum di mana-mana orang memang lagi demam bola. Itulah sebabnya saya maklum ketika kemarin pelayan kedai tak segera beringsut mengambilkan sayur daun singkong karena pertandingan bola lagi seru-serunya. Tadi di rumah saya makan sendirian, ditemani radio. Penyiar SK [Sentra Komedi] menggerutu, respon pendengar kurang ramai karena semua orang lagi nonton bola. Aha! Ini yang namanya komedi pahit! Alangkah menderitanya penyiar itu. Doyan bola tapi harus bekerja, padahal pendengarnya lagi pada nonton TV. Bagi yang suka olahraga apapun, setiap hambatan untuk menikmati siaran langsung, termasuk tayangan catur, adalah neraka. Nah, dalam pasal inilah kadang saya dianggap aneh. Ajakan bahkan undangan nonton bersama dengan senang hati akan saya tolak. Pertama: karena saya tidak suka bola. Kedua: kok kayak zaman susah, nonton TV bareng-bareng orang lain; kalau dulu di kantor kawedanan, sekarang di kafe. TV makin murah, penjual rokok di kaki lima pun memasang TV. Bahkan dengan TV tuner, komputer bisa buat nonton TV. Kenapa mesti bersusah payah nonton tayangan bola, juga balapan, di kafe? Anehnya, sebagian penggemar nonton bareng adalah pemilik TV berlayar gede, 30 inci ke atas. Lha buat apa beli TV? Tentu keheranan saya ini akan dianggap aneh, padahal belum tentu salah. Memang sih, jika merujuk kultur londo, TV adalah tungku perapian: sesuatu yang bisa membuat orang berkumpul. Sungguh wagu, saya jarang nonton TV. Dalam seminggu paling banyak dua jam. Kalaupun nonton, hahaha... sungguh asosial, saya lebih suka sendirian. Dengan catatan: sepanjang memungkinkan. Bola nggak suka, TV belum doyan, lalu apa? Pernah sih mencoba. Pada sekian Piala Dunia yang lalu, saya berniat menonton final, supaya seperti lelaki lainnya yang hanya punya topik bola kalau ngerumpi selagi menjemput anaknya di sekolah. Kebetulan saya di rumah sendirian. Kacang sudah siap. Carlsberg dingin sudah ada. Saya merasa seperti Hommer Simpson, bapaknya Bart, yang nonton TV sambil ngemil berondong jagung dan minum terus. Kacang belum habis, botol kecil belum dibuka, padahal pertandingan sudah berjalan, eh saya tertidur. Tahu-tahu pagi. Gagal sudah upaya jadi laki-laki sejati. Link: Hasil bola dalam lift © Ilustrasi: bestsoccerbuys.com
Previous Entry * Home * Next Entry |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||