![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
5.6.06 | 09:02
Mencari Dokter Komunikatif Pasien butuh didengar. Untuk itulah dia datang dan bayar.
Seorang calon dokter harusnya mendapat pendidikan dasar, artinya pendidikan di keluarga, yang menguntungkan. Sayangnya tes masuk ke pendidikan kedokteran hanya berdasarkan kecerdasan.
SAYA terkesan oleh pandangan dokter sepuh Profesor Supartondo tentang bagaimana sebaiknya dokter itu. Salah satunya harus komunikatif.Sebagian dari kita tentu punya pengalaman kurang nyaman saat mendatangi dokter spesialis. Antre lama, pakai reservasi, bayar mahal, tapi setelah ketemu dokternya kita seperti diburu-buru untuk segera keluar. Jangan banyak tanya dan mengeluh, begitu kira-kira pesan dari ruang praktik. Maka seorang dokter menganjurkan pasien yang berlebih berat badan untuk menata pola makannya. Jika perlu kalau malam tak perlu banyak makan. Ketika si pasien sakit lambung akibat salah diet, barulah dokter ngeh bahwa pasien tersebut tidur selewat pukul 2 pagi bahkan kadang lebih, pukul empat baru tidur. "Saya pikir Anda itu tidurnya jam sepuluh malam," kata si dokter. Pertemuan awal dulu sangat tergesa sehingga belum semua informasi pasien terungkap. Tentu ada pula sebagian dari kita yang punya pengalaman indah, bahkan mengharukan, dengan dokter. Artinya tak semua dokter, umum maupun spesialis, itu meninggalkan ganjalan hati. Ada seorang pengidap darah tinggi yang cocok dengan seorang dokter,dan rutin periksa tensi maupun konsultasi, karena dokternya juga mengidap hipertensi esensialis (darah tinggi keturunan). Ada perasaan senasib. Lebih penting lagi: dokter itu mau mendengar. Dokter lain, di klinik yang sama, memperlakukan catatan medis sekadarnya. Tak pernah menanya riwayat keluarga pasien, bahkan langsung menghakimi, "Kurangi makan yang asin-asin ya. Kurangi daging, banyakin sayur." Padahal sejawatnya, yang mengidap hipertensi itu, tahu betul bahwa pasien satu itu tak suka asin, jarang makan daging, doyan sayur segar dan buah, bahkan tak kuat makan banyak. Tentu hal bagus sekaligus buruk juga ada. Seorang pasien merasa nyaman dengan Dokter Anu karena dokter itu juga perokok. Saya pernah ketemu ginekolog Yogya yang di luar praktik tetap klepas-klepus. Kebiasaan sejak kuliah? Komunikasi dokter dan pasien mungkin memang bukan soal gampang. Saat masih kuliah, saya pernah terkilir kaki sampai semaput, dan setelah itu pening dan mual. Akhirnya saya dikirim ke neurolog. Anehnya yang mendiagnosis adalah perawat, bukan si dokter, yang tak mau mendengar. Begitu saya masuk, Bu Dokter cuma membaca laporan si suster, lalu menyuruh suster yang sama memeriksa saya. Dan jadilah saya simpanse yang kepalanya ditancapi kabel. Sebelumnya kepala saya malah digaris pakai pensil, kalau saya mengernyitkan dahi karena sakit langsung dihardik, "Jangan gerak-gerak dulu!" Diukur dua kali tak ada yang aneh dalam kelistrikan otak saya. Akhirnya dokter saya mohon mendengar kisah saya: dari berdiri, terkilir, dan seterusnya. "Lho kalo gitu ini salah,'" katanya sambil menatap laporan suster. Apa yang saya khawatirkan terbukti. Suster yang tak mau mendengar itu melaporkan bahwa saya berdiri, tiba-tiba semaput, lalu jatuh, sampai terkilir, dan setelah itu mual pusing. Urutan ceritanya dia tukar. Obat dan kertas cetakan rekaman otak yang panjang saya bawa pulang. Tapi saya tak mau kembali ke dokter aneh dan suster simpanse itu. Saat itu saya belajar yang namanya psikologi pasien: dalam keadaan sakit, semua jalan menuju kesembuhan, termasuk yang aneh, akan ditempuh. Dengan berjalan menyeret kaki, sambil sesekali berenti saat pusing mual memuncak, saya datangi tukang urut dekat rumah. Sepulang dari sana, setelah tidur sejenak di rumah, saya sudah sembuh. Pak Urut menjelaskan sakit saya dengan analogi yang aneh, "Tubuh njenengan itu isinya kabel. Kalo salah satu dijebrot, ditarik paksa, lalu dibundeli, maka seluruh tubuh sakit, ndak cuma pincang tapi juga pusing." Untuk sekian lama, lebih dari lima tahun, saya sempat meragukan profesi medis modern, tapi juga tak membabi buta memercayai pengobatan tradisional. Ah, tiba-tiba saya teringat dokter langganan orangtua saat saya kecil. Pak Dokter tahu betul keluarga kami dan mau bertanya, "Gimana nilai rapormu? Sekarang musim layangan, kamu juga main layangan kan?" © Foto: ihi.com
Previous Entry * Home * Next Entry |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||