KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    29.5.06 | 08:43
    Untuk Yogya, dan Bencana Berikutnya
    Persoalannya bagaimana kita menyalurkan hasil niat baik bernama sumbangan dari banyak orang...
    AKHIRNYA, Sabtu pagi itu, saya berhasil menelepon ke rumah Yogya untuk menanya kondisi simbok saya dan kakak-adik maupun keponakan saya. Lega, semua selamat. Simbok saya tetap tenang. "Tadi begitu ada gempa aku sempat nelepon adikmu di kulon, dia yakin ini gempa tektonik di Segara Kidul, bukan dari Merapi. Kalau rumah rusak lha ya semua orang rumahnya rusak to, Lé. Malah lebih banyak lagi yang lebih buruk keadaannya. Jadi nanti malam ya nggak usah tidur di dalam rumah. Namanya juga hidup, ada saja. Yang penting itu bagaimana kita semua mengurusi korban yang lebih parah."

    Setelah itu saya terus mencoba menanya kabar. Juga ke teman lain yang di Yogya maupun teman di luar Yogya tapi punya keluarga di sana. Tentu saya juga ditanya oleh teman lain.

    Kemarin petang saya bersua Mas Toni, tukang cukur asal Kretek, Bantul, dekat Parangtritis. "Remuk kabèh omahé hé, Mas. Nggak ada tempat neduh. Tapi ibuku selamat. Keluarga lain juga. Nggak tau mereka akan berteduh di mana," ungkapnya.

    Akhirnya dia menanya saya, "Naik pesawat ke Yogya itu mahal nggak sih? Kali ini saya mau naik pesawat. Untuk pertama kalinya." Lalu saya kasih info sejauh saya tahu, termasuk naik bus Damri ke bandara supaya murah.

    Semua orang yang bertalian dengan Yogya ingin berbuat sesuatu. Yang tak ada pertalian pribadi, tapi secara emosional ingin berbuat filantropis, juga segera bermunculan. Di jalanan segera berjajar penyedia kotak sumbangan. Begitu pula di permukiman. Tentu itu bagus lagi mulia.

    Tapi dengan segala maaf dan sekaligus terima kasih, kadang niat baik kurang lengkap jika tidak disertai rencana langkah yang jelas. Misalnya, ke manakah sumbangan akan disalurkan, dan dengan cara bagaimana?

    Belajar dari penumpukan sumbangan menumpuk yang tertahan di tempat-tempat pengumpul bantuan untuk korban tsunami Aceh tempo hari, ada baiknya penyaluran sumbangan untuk Yogya dititipkan kepada pihak yang lebih siap.

    Salah satu alternatif adalah melalui media massa yang punya program pengumpulan bantuan berikut penyalurannya. Tinggal pilih mana yang sreg di hati dan akuntabilitasnya bisa dipegang. Pilihan lain adalah melalui pos sejenis di lembaga pendidikan dan keagamaan.

    Mengantar sumbangan dalam jumlah besar, apalagi kalau in natura, beserta penetapan lokasi maupun populasi penerima, biasanya tak semudah pengumpulannya. Dan dengan segala maaf, penyaluran secara langsung juga butuh tambahan biaya.

    Saya tak menutup mata terhadap kelambanan birokratis. Hati saya juga terbuka kepada semua niat baik untuk meringankan beban sesama sesegera mungkin. Tetapi mengukur kemampuan diri dalam menyalurkan sumbangan di tempat yang jauh, bagi saya itu juga penting.


    sawung
    June 4, 2006   01:24 PM PDT
     
    saya lagi di jogja nih pakde dari hari selasa. Di posko desa kauman, pleret, bantul. Mau titip pesan apa?
    Name Into
    June 3, 2006   01:48 AM PDT
     
    Airmata untuk Jogja (dan sekitarnya). Tapi airmata saja tidak cukup. Ulurkan tangan kita, bantu saudara-saudara kita. Saluran lewat lembaga yang jelas, bertanggungjawab, media misalnya. Mereka punya program bantuan berkelanjutan, berjangka panjang. Bukan cuma bantuan sesaat.
    Tentu kita mau bantuan kita bermanfaat, dan tepat. Bukan justru memberi peluang pengumpul dosa.
    anang
    June 2, 2006   02:06 PM PDT
     
    pancen untuk berbuat baik perlu dilandasi sikap cermat dan bijaksana..........
    meiy
    June 1, 2006   01:42 PM PDT
     
    dari pengalaman tsunami, aku liat memang lebih baik menyalurkan bantuan lewat institusi yang jelas seperti tv, koran dsb, yg transparan dan punya rencana. namanya manusia, ada saja yg ambil kesempatan dlm kesempitan, dulu di medan byk juga yg ngumpulin duit tak jelas utk siapa ???
    budiw
    June 1, 2006   10:32 AM PDT
     
    Pak kemplu baru pertama naik pesawat? Sama pak! wah hati-hati loh pak. Siapin permen, biar pas landing kuping gak sakit kayak saya.

    --budiw
    Qky
    June 1, 2006   09:57 AM PDT
     
    masalah klasik... apa sudah tabiat, watak atau gennya orang endonesah..?!?
    buzz
    May 30, 2006   05:52 PM PDT
     
    temen2 saya di jogja telah membuktikan speed is the key dalam menyalurkan bantuan lewat tim sepeda motornya, disamping cepat dan terhindar dari kemacetan, mereka pun sanggup blusukan ke wilayah-wilayah yang sukar di jamah truk atau mobil.

    Fokus bantuannya selain makanan dan selimut juga ada pada barang-barang yang jarang dipikirkan: Yaitu makanan dan susu bayi,lampu ting, sandal jepit, petromak (gak ada listrik), minyak tanah sampai minyak angin (kami belajar bahwa masy. punya mekanisme ngatasi sakit ringan dan mensugesti kese4mbuhan yaitu : KEROKAN :) <<< ini cerita sungguh bukan nggombal pak de'
    Durin
    May 30, 2006   05:00 PM PDT
     
    lega Mas, dengar keluarga sampeyan selamat.
    Dan semoga bantuan yg terkumpul sampai di tangan yang berhak :(
    sa
    May 30, 2006   03:25 PM PDT
     
    syukurlah, keluarga baik2 saja.
    mudah2an bantuan2 yg ada.. tersalurkan.
    Hedi
    May 30, 2006   09:56 AM PDT
     
    wah lego aku sampeyan sekeluarga baik² aja...setuju soal penyaluran sumbangan itu.
    Mbilung
    May 29, 2006   09:21 PM PDT
     
    Syukurlah keluarga Pak De pada selamat.
    syaekhu
    May 29, 2006   08:55 PM PDT
     
    kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi. sekuat apapun kita merencanakan sesuatu, masih ada yang Maha Menentukan.
    jangan takabur, jangan sombong
    mari bersujud, memohon pengampunan
    mari bahu-membahu memberikan bantuan di jalur yang sampai ke tujuan
    Vaye
    May 29, 2006   04:21 PM PDT
     
    iya benul juga pikir pikir biaya untuk menyalurkan bantuan langsung mending ditambahkan buat nyumbang lewat media, moga2 sampai ke tangan yang butuh dan benar :-)
    senang bisa mampir di sini, salam
    buzz
    May 29, 2006   02:47 PM PDT
     
    malam jumat tak sengaja saya meminjam majalah National Geographic versi Indonesia bertema Gempa dengan Bonus Wilayah Rawan Gempa...tentu hal ini bukan sebuah firasat akan terjadinya sebuah gempa besar di Indonesia.

    kabar tadi hasil chating dengan teman di jakarta yang punya saudara di mbantul bercerita, banyak jenazah yang dimakamkan dengan kafan seadanya, ada sarung pakai sarung, mukena pakai mukena. kasihan para penggali kubur mereka amat kelelahan...
    oón
    May 29, 2006   01:47 PM PDT
     
    rakyat biasa indonesia mah masih kental persaudaraannya, sebentar aja pos² pengumpul sumbangan banyak terbuka. semoga semua sumbangan bisa tersalurkan dengan sebaik²nya & persaudaraan sebangsa tetap terjaga walaupun gak ada bencana
    mpokb
    May 29, 2006   11:41 AM PDT
     
    syukurlah kalo seluruh keluarga selamat..
    luthfie
    May 29, 2006   09:18 AM PDT
     
    Turut prihatin untuk rumah keluarga yang rusak, turut berbahagia untuk keselamatan anggota keluarganya pakde, mudah2an sabar selalu.
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive