![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
22.5.06 | 15:46
Peturasan & Potret Kita Jangan ngedumel mendapati kejorokan. Berpikirlah positif.
![]() PAPAN nama itu mungkin bukan sekadar buah keisengan, melainkan juga muara kekesalan. Di taman itu tak ada toilet, kecuali hamparan rumput dan perdu boleh dianggap sebagai urinoir, bidet dan kloset besar jenis outdoor yang penuh odour. Sampai hari ini papan nama itu masih bertengger pada sebatang pohon di tepi jalan tol Jakarta-Merak, di dekat pintu keluar Kebon Jeruk [boleh juga: Kebonjeruk], Jakarta Barat. Siapa yang memasangnya saya tak tahu. Para pelintas pun cuek. Bahkan ada yang sadar keberadaannya setelah tadi melihat saya memotretnya. Kalau reaksi sebagian pembaca blog ini sih sudah jelas gombalnya: "Ah paling dipasang sendiri, lalu difoto." Tak soal, sudah wajar jika sebagian pembaca blogombal adalah kaum gombal abal-abal perindu sial. Gombalisme memang bisa menular. Toilet, peturasan, kamar kecil, atau apapun namanya, adalah potret kita. Saya tak akan merujuk sekian banyak contoh yang sudah jadi rasan-rasan bersama, termasuk kelangkaan toilet bergerak yang layak. Saya punya dua contoh lain. Pertama di Pinangsia, Glodok, sentra bahan bangunan Jakarta. Di sana ada ruang pamer perusahaan saniter tenar. Semua produk mutakhir terperagakan dengan cantiknya. Mau tahu toiletnya yang fungsional? Bahannya bukan yang terbaik, kebersihannya kurang terjaga. Sebagai orang optimistis berpikiran positif saya menduga itu disengaja. Produsen ingin menyampaikan pesan, "Sebagus dan semahal apapun perlengkapan saniter, yang penting manusianya." Contoh kedua di sebuah pusat bahan bangunan terkenal, yang menyediakan ubin sampai genteng. Ibarat dalam The Sims, asal ada duit maka sebagian besar dari wujud dan isi rumah Anda bisa diambil dari dagangan toko itu — kecuali batu, bata biasa, pasir, kayu untuk kuda-kuda atap, dan teman sehunian. Bagaimana toiletnya? Kayak di terminal. Boleh jadi pesan si juragan adalah, "Makanya kalo ke sini belanja aja, jangan pipis dan lainnya. Tadi niatnya dari rumah apa coba?"
Previous Entry * Home * Next Entry |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||