![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
16.4.06 | 07:48
Kodok Ngerock Mainan kayu merangkap hiasan. Simbol ketidakmajuan? :D ![]() LAGI-lagi nyomot Tuan Hericz? Yah, apa boleh bikin. Cocok sih. Kodok ngerok / kodok ngerok / ngerock by the riverside. Ingatan itu yang melintas saat melihat mainan kayu kemarin. Mulanya saya sangka tikus, lalu landak, eh ternyata kodok, yang terpojok dalam dagangan teronggok. Ya, ingatan tentang masa bocah di Jawa Tengah: mainan kayu dan tembang dolanan. Dua hal yang bisa mengisi masa ketika anak-anak belum dibebani oleh kurikulum yang berat tapi nyatanya nggak bego-bego amat. Kenapa saya membeli si kodok rocker? Pertama: unik, bisa dimainkan, bukan cuma hiasan. Kedua: harga terjangkau [asal puasa merokok sebentar pasti terbeli], padahal dijualnya di toko mentereng [tinggal satu itu sih] pada sebuah mal anyar. Ketiga: fungsional, bisa untuk menindih kertas di atas meja kerja — akibat sering membuka jendela, angin gampang menerbangkan apa saja yang ringan. Cara memainkan kodok itu gampang. Cabut buntutnya [walah, segede itu?], lantas gesekkan ke punggung kodok. Kerokokok... kerokokok. Mirip suara kodok beneran? Nggak sih. Masih suara kayu. Tergantung cara memegangnya, hasilnya bisa suara cemengkling bisa pula tone yang yang rada terpendam. Apa ya cuma itu alasan beli? Saya sedang merenung, jangan-jangan saya ingin merebut kembali masa kecil saya: dolanan, tembang, dunia riang — ada juga cengengnya, tapi tak banyak beban. Ada yang bilang, orang dewasa yang pengin mengembalikan masa kecilnya itu biasanya bermasalah. Setidaknya mengidap sindroma gombalitus. Tapi adakah yang salah dengan nostalgia sepanjang tak merugikan orang lain?
Previous Entry * Home * Next Entry |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||