![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
10.4.06 | 10:15
Ayo Smoking No-smoking cafe akan ditandingi smoking cafe? Paling bagus ya quit... INI
guyon lama berbau SARA. Jadi mohon maaflah. Begini, teman saya pernah
bercerita, waktu Gus Dur memimpin NU, dan berapat bersama para kiai di
gedung lama PBNU Jakarta, ada saja hadirin yang klepas-klepus. Padahal
di dinding sudah ada tulisan yang melarang merokok, tapi dalam bahasa
Inggris. Maka ruang pun penuh kebul. Ketika ditegur, seorang peserta
Jawa Timur dengan dialek khasnya berkilah, "Lho tulisannya kan 'en-o
smoking'. Artinya orang NU boleh ngerokok."Memang sudah semestinya tersedia ruang merokok. Dulu, meski perokok "cuma" tiga-empat orang dari 16 orang, ruang rapat di kantor lama saya memakai pengisap asap. Itu pun dengan catatan merokoknya gantian, dan nonperokok boleh protes kalau merasa terganggu. Di kantor sekarang, setiap lantai punya smoking room dengan pengisap asap. Keluhan tentu ada. Dari harus meninggalkan meja ["makanya brenti ngerokok"] sampai ketiadaan koneksi nirkabel di ruang itu ["enak aja, emang kaum perokok tuh kasta tinggi?"]. Belum lagi keluhan tiada jukebox. Yah namanya juga manusia. Di Mal Artha Gading, Jakarta Utara, salah satu ruang merokoknya cukup manusiawi. Ada meja-kursi bagus. Asbak tersedia. Ada TV. Terdapat pengisap asap, pembuang asap, pewangi ruang, dan... poster peringatan bahaya merokok. Ada perokok berlebih ide, "Mestinya disediain koran dan majalah gratis." Teman barunya, sesama perokok, pengin ada mesin pembuat teh dan kopi. Kalau ditambah koneksi internet, plus vending machine rokok, jadilah smoking cafe. Saya perokok, tapi sering tak nyaman merokok di ruang khusus, apalagi bersama orang lain. Kadang saya merasa merokoknya terburu-buru, padahal cara saya merokok dalam keadaan normal pun kadang seperti terburu. Sudah begitu, batang belum mepet pun sudah terasa tak enak. Dengan berkumpul, meskipun rokok sudah habis kadang saya masih harus mendengarkan orang bercerita — dia bisa ngoceh karena merokoknya pelan, lantas bilang, "Entar. Ngapain buru-buru?"
Previous Entry * Home * Next Entry |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||