|
|
7.4.06 | 12:24
Kamera Kuaci, si Kecil Teman Ngeblog
Sebuah bualan panjang dengan tip gombal. Biarin... ADA
dua perkara yang harus saya jelaskan dulu. Pertama: bukan kamera dalam
gambar ini yang sering saya pakai untuk ngeblog. Kedua: saya bukan
fotografer. Kamera Olympus C370 zoom itu cuma contoh barang yang bulan lalu dibanting harganya oleh klikbca, dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 1 juta — mestinya sih bisa lebih rendah. Lalu soal lainnya? Karena saya nggak ngerti fotografi, maka di mata orang yang pinter motret, macam Paman Patih Blonthank dan Pak Erwin Dede Nugroho, foto saya banyak yang salah [fokus, komposisi, sudut bidik, pencahayaan, warna, dslb]. Jelas? Oke, lanjut.
Saya cuma mau bagi cerita bahwa kamera digital saku otofokus, yang
termurah sekalipun, sehingga ada yang menyebutnya kamera kuaci, sudah
memadai untuk ngeblog. Setidaknya menurut kegombalan saya. ENTENG, PRAKTIS.
Namanya juga kamera saku kompak, maka bisa masuk kantong. Maksud saya
kantong celana kargo atau jaket. Tidak mengganggu mobilitas. AKRAB.
Kamera kuaci berkesan main-main, sehingga bagi orang sekitar dianggap
tak seserius kamera SLR. Kamera saku tak terlalu mendatangkan ancaman
seperti halnya SLR yang menimbukan kesan Anda fotografer atau...
wartawan. Ingat, seringkali kehadiran wartawan tak diharapkan oleh
lingkungan tertentu pada saat tertentu.Lantas bagaimana
penggunaannya? Ya tinggal jepret. Beres. Nah, saya punya sejumlah cara,
yang belum tentu benar, tapi sejauh ini nyaman. UKURAN KECIL, IRIT MEMORI. Saya memotret bukan untuk dicetak, dan ketika muncul sebagai ilustrasi [sic!]
tulisan di web ukurannya sudah diperkecil supaya tak memberatkan akses.
Maka saya pakai ukuran 1024 x 768 bahkan kadang 640 x 480. Gambar kecil
juga mengirit ruang kartu memori dan nantinya hard disk.PAMER UNTUK PDKT.
LCD bukan cuma buat kepentingan saya, melainkan [kadang] juga orang
yang terfoto. Tunjukkan hasil jepretan awal kepada mereka supaya mereka
senang dan nyaman. Jepretan selanjutnya aman. Penjual kopi Pasar Cikini
saya dekati dengan cara itu. Jika Anda punya bakat culas dan licik,
maka kepada Pak Satpam tunjukkan jepretan yang aman [misalnya sudut
gedung] atau dia lagi berposisi sigap sempurna, tapi foto Pak Satpam
tertidur dengan mulut ngowoh Anda skip saja. BATASI PENGGUNAAN BLITZ.
Tentu sepanjang memungkinkan. Kenapa? Pertama: supaya tak mengganggu
suasana. Kedua: untuk menghemat baterai. Ketiga: memberikan hasil
natural — available light itu kadang lebih bagus. Memang, dalam
cahaya rendah, dan Anda tak sempat mendongkrak ISO untuk menaikkan
kecepatan rana, ada risiko gambar blur karena kamera goyang.
Beruntunglah jika kamera saku Anda sudah memiliki image stabilizer untuk meminimalkan goyang. TANPA TRIPOD?
Jawabannya bukan "Pakai saja monopod." Untuk mengurangi goyang saya
menumpangkan kamera pada meja, pagar, benda keras lainnya. Kadang saya
menjadikan tembok atau permukaan vertikal lainnya sebagai image stabilizer dengan menempelkan bodi kamera ke situ. Hanya fotografer dan sniper
Kopassus, juga suhu kungfu dan penari, yang bisa melakukan gerakan
lembut dalam menjepret tanpa goyang pada kecepatan di bawah 1/30 detik. INGAT TEMPAT.
Tak semua tempat aman buat memotret kecuali Anda sudah diterima oleh
lingkungan itu. Di Pasar Pancoran, dekat Gloria, Glodok, Jakarta Barat,
itu kadang digelar judi di bawah tenda, siang hari, dengan taruhan
ratusan ribu rupiah per orang. Jika centeng menggebuki Anda lantaran
kepergok memotret, jangan harap hansip dan polisi setempat akan
melindungi Anda. O, gitu? Ya. Gampang kan? Bahwa foto kita akhirnya dianggap jelek oleh fotografer, ya santai sajalah. Teman saya pernah bilang, menilai hasil foto itu nggak ada matematikanya. Teman saya satunya lagi,
kalau ngomongin foto, malah semaunya. Nah, buat saya, yang penting kita
hepi. Eits, nanti dulu! Bagaimana kalau orang lain nggak hepi? Aha, ini
dia! Ada ranjau lho. PELANGGARAN PRIVASI. Ada
kemungkinan publikasi jepretan Anda, apalagi bukan di tempat publik,
merugikan orang yang terfoto. Memang selalu muncul celah debat: apa
saja yang dianggap ruang privat dan bagaimana dengan kolam renang umum. PELANGGARAN HUKUM.
Menurut HAKI, publikasi foto seseorang harus seizin orang yang
bersangkutan. Kalau yang terfoto lima orang maka Anda harus mendapatkan
izin dari kelima orang itu. Akbar Tandjung bisa menang perkara,
membatalkan peredaran sebuah buku berisi kliping kasus korupsi Bulog
bukan karena isinya melainkan foto sampul wajahnya pada buku yang tak
dimintakan izin terlebih dahulu. RISIKO... Dua soal tadi bisa jadi sandungan bahkan tali gantungan. Minimal cercaan. Itulah sebabnya di sini saya berterima kasih kepada komentator
yang menegur "anda ambil foto sembunyi2? wah, dasar pencuri gak tau
etika." Persoalannya seberapa siap Anda mempertanggungjawabkan
jepretan: dari memberikan penjelasan, meminta maaf, menghapus dari web,
bahkan lebih jauh dari itu. 
Jadi kenapa tidak main jepret saja? Oh jangan memaksakan diri. Kalau
Anda lagi malas motret, ya biarkan saja blog tanpa jepretan. Gitu aja
kok repot. Kalau belum ada kamera? Beli. Mau yang murah? Tunggu
sekitar Juli-September nanti pasti banyak diskon. Kuat ngerem nafsu?
Tunggu menjelang Lebaran dan Natal. Kamera digital kian
memurah karena sebagian besar fungsi masinal sudah dioper oleh kepingan
elektronik yang diproduksi massal dan dirakit dengan segera. Begitu
muncul versi yang lebih maju maka harga kamera model sebelumnya akan
anjlok. Pada 2001, sebuah Nikon Coolpix 990 berharga Rp 8 juta lebih. Bulan lalu, dari sebuah pameran, dengan Rp 7 juta teman saya bisa mendapatkan "paket untuk pemula": Pentax SLR *ist DL, termasuk lensa 18-55 mm dan 100-300 mm, tas, tripod, topi. Bagaimana dengan kamera pada ponsel? Memadai juga untuk ngeblog, termasuk photoblogging. Apalagi ponsel berkamera sekarang memberikan resolusi tinggi dan makin pintar. Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia, pernah menunjukkan kepada saya esei foto Stasiun Kota jepretan Nokia N90.
Agus Leonardus malah membukukan foto hasil jepretan beberapa model
ponsel Nokia. Memang sih, saya belum lihat bukunya, baru mengintip
hasilnya dari foto yang dia kirimkan kepada sejawat saya. Nah ini yang Anda tunggu: kamera apa yang saya pakai? Itu kamera kuaci anak saya karena dia lagi malas membawanya. Sebuah Canon Powershot A410 yang jarang saya eksplorasi. Saya memakai sekadarnya. Asal klik saja. Setting manual mengikuti anak saya, karena saya diledek, "Bapak nggak nyoba manual? Mau pake auto terus?"
 |  |  | blonty April 11, 2006 01:41 AM PDT
Kaka Prabu, mosok link kula dhawah wonten keluarga Olympus Pocket Camera? hehehe.... dikira kula sampun kagungan big company, lho.. :p |  |
  |  |  | Mariskova April 9, 2006 01:19 AM PDT
Hahaha... Om, ini posting berfaedah bin manfaat banget. Trutama soal snipernya (?).
Saya juga termasuk blogger yg merasa blom afdol kalow belom pake ilustrasi/foto utk melengkapi tulisan. Apakah itu brarti tulisan saya blom deskriptif shg harus dijelaskan lagi oleh foto???
*sigh* |  |
  |  |  | Jay April 8, 2006 04:55 PM PDT
Kualitas teknis kamera saku memang tidak sebagus kamera SLR, tapi soal komposisi tidak ada batasan, kamera apapun bisa dieksplorasi untuk menampilkan komposisi yang menarik. |  |
  |  |  | macchiato April 8, 2006 03:59 PM PDT
«Hanya fotografer dan sniper Kopassus, juga suhu kungfu dan penari, yang bisa melakukan gerakan lembut dalam menjepret tanpa goyang pada kecepatan di bawah 1/30 detik.»
Sniper Kopassus - LOL
Spot on!
Tapi ati-ati oleh sensor merah di dahi besok-besok euy. |  |
  |  |  | BHq April 8, 2006 01:19 PM PDT
Waduh... kameraku dibilang kamera KUACI. Sialan nih om. Kalo ada mbok ya aku di lungsuri kamera om :D |  |
  |  |  | wedhouz April 8, 2006 08:55 AM PDT
wah, nembe tumbas kwaci aranipun nikon kok malah wonten postingan njenengan meniko, keleresan sanget. matur sembah nuwun den... |  |
  |  |  | Mbilung April 8, 2006 02:30 AM PDT
Kamera kuaci, saya nyebutnya kamera ketendang jadi. Saya bingung kalo pakr kamera yang banyak kenob-nya. |  |
  |  |  | myr April 8, 2006 01:59 AM PDT
anaknya asik tuh :))
btw semua foto di blog-ku jg pk kamera kuaci kok |  |
  |  |  | didats April 7, 2006 05:21 PM PDT
bwahahaha........
*inget cerita pakde kere kemplu dulu*
tapi katanya dulu pernah jadi potograper di sebuah.... ah sudahlah... *takut ngomongnya*
hihihi |  |
  |  |  | blonty April 7, 2006 04:14 PM PDT
ingat Gombal, aku jadi ingat Mukiyo yang satu ini... pancen oke, deh... sosok rujukan blajar idoep yang ruarr biasoss....!!! Gombal van Jogja ini memang mirip-mirip Pak Koesnadi. Meski aku yakin, hobinya jalan-jalan sambil nenteng kamera juga sama sibuknya dengan Pak Boedihardjo Pondok Tingal almarhum. toppp!! |  |
  |  |  | Deny April 7, 2006 03:51 PM PDT
gak harus kamera mahal untuk dapet hasil yang bagus.
hidup auto! :D
*gak bisa set manual |  |
  |  |  | nduk April 7, 2006 03:09 PM PDT
wah, pakde bagi-bagi ilmu, nih... :D |  |
  |  |  | windede April 7, 2006 12:54 PM PDT
gombalan ini bisa jadi makalah dalam seminar sehari fotografi.
sampeyan jadi pembicara, setiap peserta ditariki 100 ribu pun pasti mau.
bonusnya: gimana cara menemukan momen-momen gombal yang menghasilkan foto luarbiasa cukup dengan pocket camera.
makasih, saya dapat banyak pelajaran dari kegombalan sampeyan....
go... go... gomballll... |  |
  |  |  | pembaca setia April 7, 2006 12:50 PM PDT
teman2 anda tobb n hebat kenapa anda tidak bisa tobb ? |  |
 |
Previous Entry * Home * Next Entry
|