![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
16.3.06 | 13:31
Serbapaket, Lalu Kepepet? Suka tak suka, butu tak butuh, ambil saja semuanya.
SEPASANG bolpen dan pensil mekanis di Mal Taman Anggrek itu mungil, enteng, menggoda. "Yang paket saja," kata si pramuniaga. Saya nggak mau karena kalau sepaket itu warna tabungnya sama, nantinya bisa keliru cabut pensil padahal yang saya butuhkan bolpen. Tapi misalkan beli eceran, saya bisa memilih biru tua metalik untuk bolpen, dan warna perak itu pensil.Manakah yang saya pilih? Bukan paket, bukan eceran. Kewarasan saya mengingatkan, buat apa beli toh saya jarang mengantongi bolpen, apalagi bersama pensil. O, buat gift? Maaf, saya orang pelit. Beberapa malam belakangan, kantor kami bekerja sampai larut. Untuk mengatasi lapar terpaksalah kami memesan makanan siap saji via telepon pada dini hari. Sudah tersedia paket A, B, C, D, dst. Padahal yang saya butuhkan bukan selengkap itu. Take it or leave it: mau kenyang bisa bekerja atau asam lambung merambat naik. Serbapaket. Itukah tuntutan atas nama modernitas? Jasa pemakaman pun ada yang terpaket, sejak penyediaan rumah duka, make up jenazah, dan seterusnya, sampai ke liang lahat. Para pengembang permukiman mestinya juga menjual paket komplet kalau yang dibangunnya memang sebuah kota mandiri, kota satelit, atau sejenisnya. Sejak lahir, sekolah, perayaan khatam ngaji, sunat, baptis, sidi, peneguhan iman, wisuda, bekerja, nikah [atau cerainya sekalian], pensiun, sampai kuburan, semuanya terlayani di kawasan itu. Bakal membosankan? Entah. Apalagi kalau suami atau istri cuma didapat dari lingkungan satu RT atau satu cluster, yang dikenalnya sejak bocah, mana lahir di klinik yang sama pula. Produk terpaket, barang maupun jasa, adalah langkah lanjut dari produk massal yang kalengan. Konsumen yang ingin memadu padan sendiri, apalagi tailor made, dianggap menuntut layanan butik: kudu bayar mahal. Ada yang bilang, pacaran dan apalagi perkawinan itu juga paket, masing-masing tak boleh memilih bagian yang paling enak. Kehidupan kita pun mungkin sebuah paket misterius karena sudah Ada Yang Mengatur.
Previous Entry * Home * Next Entry |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||