KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    16.1.06 | 15:24
    Sarjana & Pedro
    Gelar akademis dan profesi tetap perlu bahkan penting. Kalau kinerjanya buruk, jangan keburu menyalahkan gelar.
    SEKOLAH eksekutif. Buat siapa? Mungkin CEO macam saya: chief executive office boy. Janjinya Desember 2005 mulai kuliah, Oktober 2006 wisuda. Ongkos Rp 250.000 [per semester? per bulan?]. Tapi sejauh ini saya belum berminat. Sayang ketika saya hubungi, untuk kepentingan posting kali ini, si penjawab telepon mempersilakan mengontak lagi sore hari, karena baru saat itulah orang yang berwenang menjawab sudah hadir.

    O, jadi ini semacam sekolah petang: sore masuk, setelah senja ngantuk? Hus, jangan melecehkan. Kalaupun iklannya nampang di iklan baris Koran Tempo pekan lalu, bareng dengan iklan jual mobil dan peralatan wartel, ini sah saja. Bukankah perguruan tinggi lain juga beriklan di koran dan majalah? Bedanya mereka  beriklan dengan ukuran display, yang tarifnya lebih mahal. Efisiensi, bagi si pengiklan kecil, apa salahnya.

    Jadi, apa dong masalahnya? Gelar kesarjanaan masih dibutuhkan, padahal biaya pendidikan tinggi makin mahal. Apakah gelar akademis itu segalanya? Gelar itu, sejauh saya tahu, untuk menunjukkan seseorang telah menyelesaikan bidang studi tertentu dan diandaikan memahami masalah tertentu.

    Pemakaian gelar terserah si empunya. Masih lebih sopan orang yang menggunakan gelar kesarjanaannya untuk segala urusan ketimbang orang yang mengaku-aku sarjana padahal bukan.

    Memang sih, ada sejumlah akademisi yang hanya mau menggunakan gelarnya untuk kepentingan akademis. Di luar itu, misalnya untuk urusan birokrasi, gelar ditanggalkan. Sebagai contoh adalah Satryo Soemantri Brodjonegoro, direktur jenderal pendidikan tinggi di Depdiknas. Untuk ngeblog, Mr GBT Budi Rahardjo, yang punya banyak blog itu, juga tak pakai gelar — kecuali dalam biodata.

    O, jadi gelar akademis maupun gelar profesi itu tidak penting? Ya penting to Den! Misalnya dalam lapangan pekerjaan tertentu hal ini untuk mempermudah pengelolaan personel, terutama lembaga yang organisasinya besar. Akan sangat merepotkan bila gelar akademis dan profesi bukan merupakan bagian dari kualifikasi. Menilai ratusan, ribuan, apalagi jutaan orang bukan soal mudah, terutama dalam awal seleksi perekrutan.

    Untuk lembaga kecil, dengan organisasi ramping, katakanlah cuma berisi balasan orang tenaga inti, keharusan itu mungkin bisa dikompromikan karena lingkungan kecil bisa menjadi saksi kinerja seseorang, apalagi jika portofolio si tanpa gelar itu memang layak jual.

    Memang ada yang bilang gelar bukan jaminan seseorang bisa bekerja bagus. Secara kasuistis, saya pernah mendapatinya. Tapi mungkin saja itu karena  the wrong men on the wrong places.

    Begitu pula dengan pendapat bahwa alma mater tenar bukan jaminan. Lihat kasusnya dong. Bisa saja seperti tadi: the wrong men on the.... Tapi saya sering mendapati, orang dari perguruan tinggi tak tenar pun bisa hebat bahkan mumpuni. Mastering dalam bidangnya sangat andal.

    Bagaimana dengan saya? Desember lalu saya mampir ke alma mater, supaya anak saya bisa memotreti kampus. Lama, amat sangat lama, saya tak ke kampus itu. Di sana saya bertemu ketua jurusan,  beberapa dosen lain — termasuk juga dosen berkaos yang masih pakai anting. Salah satu dosen adalah senior, seorang hajjah, yang baik sekali terhadap saya.

    "Jadi, kenapa Anda dulu ninggalin kuliah?" tanyanya, penuh keibuan. Saya jawab, "Lha ya itu Bu, saya kan memang bodoh, payah." Dia menukas, "Ahhhh!" Lalu kami pun tertawa bersama. Memang itulah jawaban default saya setiap kali ditanya soal kuliah. Nama saya dulu, pantasnya, memang Pedro. Bukan meniru telenovela, melainkan "pemuda drop out".

    Link: Surat Edaran Dirjen Dikti


    bangpei
    July 11, 2008   09:03 PM PDT
     
    Tiga kali pindah kerja ,1 perusahaan swasta nasional, 2 lagi PMA herannya enggak pernah diminta ijazah atau gelar hanya modal surat lamaran, ktp, photo dan resume doang .... kok bisa ya
    nduk
    January 21, 2006   09:55 AM PST
     
    wah, saya jg lama ndak ke alma mater, pakde... meski mgk sblmnya gak selama pakde, sih... :p

    eh, transkrip nilai saya msh ketinggalan di sana. klo transkrip penting gak ya? :D
    Name
    January 20, 2006   03:29 PM PST
     
    no coment
    pecas ndahe
    January 19, 2006   03:49 PM PST
     
    bu joen pasti sedih lihat bekas mahasiswanya sing paling gundul tur ndhesit cuma jadi kere kemplu, kaiiiiing ......
    Rizky
    January 19, 2006   02:59 PM PST
     
    pengalaman lah paling utama. di bidang kerja gue standar pendidikannya ketinggalan jauh dari standar internasional. jadi mendingan gue cari tutorial sama e-book di internet daripada diracunin sama elmu2 ga bermanfaat.

    gue ngga bilang sekolah ga bermanfaat ya, cuma dalam kasus tertentu, pengalaman kerja langsung lebih berguna.
    babel
    January 18, 2006   07:34 PM PST
     
    hmm.. jadi intinya "the right men in the right place"..

    *srrt.. ah sambil ngisep rokok :)
    frozi
    January 18, 2006   05:52 PM PST
     
    gelar.. gelar..

    gelar tikar buat jualan gelar

    gelar.. gelar..
    ngga
    January 18, 2006   03:29 PM PST
     
    untuk buat bikin bloggombal ga perlu gelar,
    kalo iya... saya ga akan pernah baca tulisan2 om hehe
    lenje
    January 18, 2006   01:46 PM PST
     
    hihihihi.. gelar itu emang cuma buat cari kerjaan kok... sama buat cetakin undangan nikah, hahaha...
    andry
    January 18, 2006   01:07 PM PST
     
    Pakdhe, saya percaya sekolah itu candu (kayak judul buku saja).

    Kalo kita tidak kecanduan, tidak mungkin ada jalansutera.. eh salah.. tidak mungkin ada jalanpintas seperti iklan koran tadi.

    Candu memang melenakan, dengan dosis yang tepat bisa berguna. kalo berlebih, bisa koit.

    Toh ya, sebelum belanda masuk ke indonesia, rakyat sudah sekolah. belajar bertani di pendopo desa, bebas santai dan kekeluargaan. Efektif di otak, efisien di hati.

    Tidak seperti sekolah sekarang yang lebih mirip penjara ketimbang alat untuk 'membebaskan' manusia.
    sawung
    January 17, 2006   03:57 PM PST
     
    Gelar sih sebagai pelngkap aja. Percuma bergelar klo kemampuan ga menunjang. Kuliah juga bukan jaminan orang tersebut pola pikir dan kedewasaannya mampuni. Teman saya yang DO dari sma malah lebih baik pola pikirnya dari kebanyakan adik-adik kelas saya di ITB sekarang.

    Di sini masih banyak orang yang melihat orang lain berdasarkan apa gelarnya bukan apa yang telah dia perbuat. Selama orang dinilai dari gelarnya dan bukan dari kemampuannya saya pikir jual beli gelar ga akan hilang.

    achedy
    January 17, 2006   03:12 PM PST
     
    Yang kasihan adalah orang yang gelarnya nggak sama dengan kemampuannya. Kayak saya mungkin :)
    Hedi
    January 17, 2006   02:13 PM PST
     
    saya mau kaya penasehat spirituil saya....ga punya gelar tapi fasih tujuh bahasa asing...:))
    lantip
    January 17, 2006   01:07 PM PST
     
    saya juga pedro.. hehe

    wah.. blog saya lagi down.. gak bisa nulis nulis nih.. :(
    fortuna
    January 17, 2006   01:04 PM PST
     
    saya ndak punya gelar... tapi bukan berarti saya nggak mau... paling ndak satu aja... sudah cape cuma bisa gelar handuk (nggak punya tikar) makanya balik lagi sekolah...
    tapinya tapi... saya juga lihat... ada teman yang punya gelar sayangnya tidak menghasilkan apa2...
    mungkin yang perlu juga dipertimbangkan... PROSES mendapatkan gelarnya...
    Kalau gelar doang... saya yakin banyak yang bisa beli... Lah Rhoma Irama aja bisa dapet gelar dari University of Chicago, bukan sebagai Raja Dangdut... gelar honorary sebagai entertainer... Hihihi! Pokoknya gelar... weis bar! Permisiii...
    onanymous
    January 17, 2006   11:00 AM PST
     
    gelar kloso trus turu...wong saiki jaman edan nek ora melu edan malah dibilang wong edan
    lita
    January 17, 2006   09:14 AM PST
     
    ya ya gelar itu penting. tapi lebih penting lagi untuk bisa berkata & berbuat sesuai gelar yang diberi
    yanti
    January 17, 2006   06:59 AM PST
     
    Aku juga jarang banged nulis gelarku Oom. Kadang males juga sama efeknya, "Wah gelarnya.. lulusan sono ya? Pinter doong..". Padahal blom tentu aku lebih pinter daripada lulusan lokal :P.

    Tapi di KTP yang satu, yg diurusin mertua, pake gelar tuh. Abis mertua maksa :). Di undangan nikah juga, dipaksa nyokap. Ya sud, ngalah lah, nyenengin ortu :)
    hericz
    January 17, 2006   01:35 AM PST
     
    Gelar itu penting lho,

    lebih baik gelar tikar dari pada gulung tikar.
    kutu
    January 16, 2006   10:29 PM PST
     
    yang jelas pekerjaan saya saat ini tidak ada hubungannya dengan gelar kesarjanaan yg ditambahkan di ijazah saya hehehe...
    anggi
    January 16, 2006   08:13 PM PST
     
    kalo menurut saya,
    gelar itu penting.. tapi ngga perlu dong dipake dimana2... apalagi dipamerin trus dibangga2in...
    yang penting itu kan ilmunya.. hihihi
    kere kemplu
    January 16, 2006   07:47 PM PST
     
    untuk jalan sutera:
    makasih atas koreksi dan usul sampeyan. :)
    jalansutera
    January 16, 2006   02:27 PM PST
     
    tambah komen: mbok iyao ada link ke koranku, gitu lhooo. masa cuma diambil gambarnya dan ditulis saja, tanpa link.... iso ditambah, to, mbah?
    jalansutera
    January 16, 2006   02:22 PM PST
     
    pentigngkah sebuah gelar? aku nggak tahu. dulu, ketika pertama kali kerja, aku pernah berpikir: ilmu apa yang bisa aku terapkan ketika kuliah dulu di tempat kerja? nggak ada, ya hampir nggak ada. di tempat kerja aku masih harus belajar segala hal, mulai dari nol. tidak ada itu teori di bangku kuliah yang bisa dipakai. ugh.. rasanya sebel. buat apa kulaih lama tapi nggak ada ilmu yang dipakai?

    tapi, ternyata salah. aku 100% salah. bangku kuliah, begitu sebuah artikel pernah kubaca, menempa kedewasaan dan pola pikir seseorang. nah, kedua hal itu tidak bisa dibikin intant layaknya mie siap saji.

    makanya, gelar kesarjanaan tanpa kedewasaan yang mumpuni dan pola pikir yang mantap adalah sebuah kesia-siaan semata. silakan saja orang lain bergelar S-2 yang bisa diraih dalam waktu semalam. bisa dipastikan, otak mereka tidak ada bedanya dengan udang bakar!

    ugh... jadi laper nih, pengin seafood! (opo hubungane, dul?)
    kere kemplu
    January 16, 2006   12:45 PM PST
     
    by default? "dari sononya" 'kali yak? :D
    Babi
    January 16, 2006   12:40 PM PST
     
    Nah ... mbah... ini yang mo saya tanyaken ... bahasa indonesianya by default apa sih?
    Seggaf
    January 16, 2006   12:28 PM PST
     
    budaya Indonesia, oom ... maunya serba instan, termasuk pendidikan ...
    Sei
    January 16, 2006   11:21 AM PST
     
    Pinternya licik gimana gak parah he..he.. Kalo pinter jujur masih bagusan...

    Mau pintar kok mahal?
    Tanya knapa?
    mpokb
    January 16, 2006   10:35 AM PST
     
    sudah cukup banyak orang terpelajar, eh, terdidik kok bang. gelarnya bertumpuk2.. tapi kok ya indonesia malah terpuruk seperti begini.. (terus ada yg nyaut : lha banyak orang pinter aja begini, gimana kalo gak ada orang pinter, pasti lebih ancur..) *sruputtt...*
    ='.'=
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive