KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    25.8.05 | 17:15
    Demonstran Canteek...
    Masa sih, berita tentang demonstrasi sekadar menjadi hiburan?
       
       

    cakep euy! BAGI saya tak ada yang salah dalam hal ini. Ada demo. Di antara peserta ada yang cantik. Pewarta foto menjepretnya [kameraman TV juga]. Redaktur foto koran [editor TV juga] memilih bidikan yang menampilkan si cantik. Sepanjang sudut bidik tepat, komposisi enak, dan konteks peristiwa terpampangkan [teks tuntutan demonstran], maka baik saja adanya. Saling memanfaatkan, begitulah.

    Si cantik diuntungkan dan semoga bahagia, juga lega, karena tak percuma mengemas tampilan diri. Media mendapat bahan bagus untuk dipasang, tanpa harus nyinyir melaporkan bahwa demonstrannya pakai rok mini, cantik pula [itu sih tugas radio]. Pembaca — mestinya, sih — senang. Tak hanya pria pembaca [terutama saya], wanita pembaca pun senang melihat wajah cantik.

    Lihat saja contoh dari berita Kompas selama Agustus. Masing-masing dari edisi Sabtu 6 Agustus [demo massa Partai Keadilan Sejahtera, hal. 1], Selasa 9 Agustus [demo pramugari Garuda, hal. 1], dan Selasa 23 Agustus [demo Aliansi Perempuan Peduli Listrik, hal. 17]. Sayang, foto-foto itu tak terangkut dalam edisi online.

    Apakah misi demonstran tercapai, itu butuh pembahasan yang lebih panjang. Demonstrasi, yang diindonesiakan menjadi unjuk rasa, adalah tindakan memancing perhatian untuk menyampaikan pesan. Media membantu menggemakannya. Bahwa ternyata pihak yang disasar demonstran tetap bebal, itu persoalan yang lain lagi.

    Hmmm... apakah media terpeleset, sekadar menjadikan sebuah demo sebagai sesuatu yang menghibur, itu bisa ya dan tidak. Dan jujur saja, kajian isi macam ini bisa menjadi debat semalam suntuk. Diskusi ngantuk-ngantukan kelas warung Indomi rebus bisa saja enteng berkesimpulan, "Apapun yang diniatkan untuk menarik perhatian berarti punya unsur hiburan. Demo pakai happening art, pelakunya cowok kumal bau, itu juga menghibur."

    Kalau kesimpulan itu diterima, maka makin bulatlah nilai hiburan untuk demo sexy [topless gitu] yang dulu digelar Ilona Staller [Cicciolina], bintang porno Italia yang menjadi anggota DPR mewakili Partai Cinta. Gambar Cicciolina di masa lalu [kalau sekarang sudah tuwirrr], berikut barisan demonstrannya, bahkan kampanyenya yang diisi show hwarakadah, silakan Anda cari sendiri di internet.

    Sesial-sialnya demo adalah demo yang sepi penonton, tanpa liputan, dan pihak yang disasar tak ada di tempat.

    NB: Buku Made in Heaven, karya perupa Jeff Koons, bekas suami Cicciolina, pernah disensor di Inggris karena adegan suami-istri itu dinilai terlalu "explicit & hardcore". Buku tanpa sensor, seharga sekitar Rp 200.000-an, pernah dijual di Kharisma Mal Taman Anggrek, Jakarta.
    © Foto-foto asli: Mahdi Muhammad/Kompas, Agus Susanto/Kompas & Rony Aryanto Nugroho

    kere kemplu
    August 29, 2005   05:51 PM PDT
     
    memang betul, golda. tapi dia berkarier di italia, sampai mendapat nama julukan cicciolina atau si mungil. :)
    golda
    August 29, 2005   11:30 AM PDT
     
    om gombal, Ilona itu setahuku orang Hongaria. Meskipun bukan berarti aku bangga dengan aksi-nya dia sebagai bintang porno yang bisa masuk ke dunia politik. Ah, namanya juga perempuan. ;)
    essowenni
    August 27, 2005   11:27 PM PDT
     
    Om, cuma mikir gimana kalo yang demo MMI atau FPI... Ada nggak ya yang kayak gini?
    didats
    August 26, 2005   10:48 AM PDT
     
    udah sempet beli bukunya gak om?
    ada persi PDF gak? hihihi
    *kabur*
    nona cyan
    August 26, 2005   07:30 AM PDT
     
    lelah saya Oom..dunia semakin superfisial...
    viga
    August 26, 2005   02:04 AM PDT
     
    broo.. akhirnya gwe nemu juga tanah kosong di sudirman yang lo posting lalu.. *puasss*
    JaF
    August 26, 2005   12:20 AM PDT
     
    hmmm.... lagi membayangkan ada yang demo ala Ilona Staller di Gedung DPR Senayan... hhhehhhh....

    gile beneeerrr.... inilah sisi indah demokrasi..

    hericz
    August 26, 2005   12:09 AM PDT
     
    Haha.. siyal, gambar-gambarnya dikoleksi juga tho ama simbah..

    dasar simbah gendeng :))

    Kirain itu foto2 cuma koleksi yang masih muda-muda seperti diriku mbah..
    mpokb
    August 25, 2005   11:14 PM PDT
     
    pernah nonton "Full Monty"? tontonlah :D
    dinda
    August 25, 2005   10:17 PM PDT
     
    wah.. om .. kayaknya memang di dunia yang dikuasai pria, kami wanita harus tau memposisikan diri. Bagaimanapun pria itu suka yang cantik2.. tinggal yang cantik2 pintar2 aja menggunakannya. Yang gak cantik? harus lebih pintar dari yang ganteng-ganteng.. hehe..
    Epat
    August 25, 2005   09:29 PM PDT
     
    Bahkan suara-suara demokrasi pun sudah memanfaatkan product feminisme? :D
    efilnikufesin
    August 25, 2005   07:36 PM PDT
     
    om kere punya no HP ce yg tengah ga? ato no yg laen kaleee...
    hueheheheek
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive