KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    19.8.05 | 13:42
    Warung Makan Tegal Bahari
    Begitu bangganya mereka akan slogan daerahnya, padahal ada warga daerah lain yang tak peduli dengan slogan penguasa masing-masing. Propaganda Tegal sungguh berhasil.
    warung tegal bahari, lambang kekuatan ekonomi rakyat

    DI DEKAT kantor saya ada warteg. Namanya warung tegal bahari. Kok saya menuliskannya pakai huruf kecil [lowercase] semua, bukannya Warung Tegal Bahari? Sabar dhisit laaaa..., inyong arep cerita liyané kiyè. Bersabar sedikitlah. Nah warteg satu itu selalu buka pagi. Sebelum pukul tujuh sudah bisa meladeni pengudap. Sajian makanannya masih hangat. Sebagai sajian Pantura Jawa, masakannya tak terlalu asin untuk lidah Yogya yang gemar manis.

    Pagi sebelum jam kantor, apalagi saat jalanan masih lancar, jumlah pengudapnya tak sampai menyesaki ruang. Bisa begitu karena sebagian pembelinya adalah mereka yang cukup memarkir motor dan mobil sebentar, lantas meneruskan perjalanan ke kantor dengan tas kresek berisi makanan warteg. Dua pekerja kontraktor mengomentari sepasang suami-istri muda yang memarkir Honda Jazz perak, "Orang gagah sama cantik, Cina lagi, naiknya mobil bagus, kok belinya sarapan di warteg." Saya, yang tak mengenal kedua pria itu, hanya tersenyum, untuk sopan santun, sebagai tanggapan atas bahasa tubuh mereka yang meminta komentar saya.

    Warteg. Sejak kapan ada? Saya tak tahu sejarahnya. Cuma menduga warung yang mulanya dijalankan oleh orang-orang asal Tegal, Jawa Tengah, itu adalah saksi, bahkan bagian dari, arus urbanisasi ke Jakarta. Setahu saya kota-kota lain dulu tak mengenal warteg. Cuma ada warung nasi, dengan nama generik macam "warung nasi sederhana" dan "warung nasi sudi mampir". Di Tegal sendiri, dulu, mestinya juga tak ada warteg.

    Aha! Nama generik! Dulu cukup warteg. Sekarang mereka memasang tulisan panjang: warung tegal bahari. Si penyandang tak merasa meniru nama warung lain. Namanya juga generik. Sama seperti setiap pembuat wingko menambahkan "babat", gudeg mengembeli diri "yogya", petis kudu "sidoarjo", geplak sebaiknya "[m]bantul", bakpia semestinya "pathuk", enting-enting pantasnya "salatiga", dan yang trondholo adalah penipu yang menjadi pembajak kaos, karena atas alasan itu pula mereka dengan enteng bikin "kaos dagadu".

    Nama tempat dan merek telah menjadi kata biasa, penerang kata benda, sehingga tak perlu dituliskan dengan awalan huruf kapital. Pembajak kaos merek Dagadu berkilah bahwa "dagadu" sama saja dengan "pathuk" dan "yogya", sehingga si pemilik merek, PT Dagadu Indonesia, menyerah pasrah, tak membawa persoalan ke mahkamah. Suatu kali Dagadu Aseli memasang balon promo di atas Mal Malioboro, sebagai penunjuk 0,0 km bahwa di situlah outlet-nya. Balon itu mengempis oleh pelor senapan angin.

    Kembali ke warteg. Tegal Bahari mulanya slogan, bagian dari persaingan antarkota untuk memperoleh Adipura. Sebuah propaganda yang bagus, karena Tegal memang kota pantai. Kota lain ada yang memaksakan slogan, semacam "Hatti Beriman" [betul, rangkap "t"]. Jakarta zaman Wiyogo Atmodarminto, gubernur penggemar motor gede BMW, menslogankan diri "Jakarta BMW".

    Semarang "Atlas", Temanggung "Bersenyum", Sleman "Sembada", dan seterusnya — silakan membuat daftar sendiri kalau tak sebal [ berikut kepanjangannya] — sehingga zaman TV cuma ada TVRI, muncullah dagelan garing-jayus-basi bahwa luar negeri juga tertular, buktinya ada "Mekkah Cerah", "Amsterdam Berawan"...

    Tagal Bahari, elok temen si ya, dibanggakan oleh warganya. Carilah dua kata itu di Google, maka Anda akan panen nama dan informasi. Dari koperasi sampai hotel pun mamakai nama bahari. Jika setiap warteg punya situs, maka Google pun akan semakin tambun. Sejarawan Anton Lucas punya catatan tentang Tegal.

    Ini tebakan untuk rika, mangsuté inyong ya Anda: yang "bahari" itu Tegal yang Kota atau yang Kabupaten?

    Bril
    August 22, 2005   12:59 PM PDT
     
    hehe, baca komen Pengamen Bogor jd inget masa kecil. itu lagu wajib Bina Vokalia bogor jaman baheula.

    ambar
    August 22, 2005   11:41 AM PDT
     
    kalau saja ada warteg di sing yah...*ufff sigh*
    te-el
    August 22, 2005   11:19 AM PDT
     
    sakjane, "gombal" pun boleh2 aja tak nggo, mbah. ning, " idealisme dalam sepotong roti" itu lagi me-ledak2 teng njero ati kula. di pekerjaan sudah tak bisa idealis karena tuntutan kahanan. di blog kan masih bisa idealis, mbah.... kita terus bersaudara mbah....
    gonezhar
    August 19, 2005   10:40 PM PDT
     
    uhmmm iya di pinggiran jalan juga ada penjual kaos dagadu, tapi "iseng-iseng" liat mereknya... dadung
    Deny
    August 19, 2005   06:20 PM PDT
     
    walah..
    nyong ora ngerti kiye bahari sing rika maksud nang kota'ne apa sing nang kabupaten.. :)) *logat batak

    warteg is good for your (pocket) health :D
    arjuna
    August 19, 2005   05:56 PM PDT
     
    bandung berhiber : bandung bersih hijau berhiber
    yudi
    August 19, 2005   05:31 PM PDT
     
    inyong ikutan laaaa ...

    Bandung Berhiber ( Bersih Hijau Ber..hiber)

    aja kepribeen ...
    frozi
    August 19, 2005   05:31 PM PDT
     
    warung yang dikelola oleh orang tegal, kalo dekat rumah ada warteg eka jaya yang setiap 3 bulan sekali ganti pengelola (baca pemilik).
    pengamen bogor
    August 19, 2005   04:06 PM PDT
     
    lah kepriben, inyong malah jadi kepingin nyanyi..

    bogor kota indah sejuk nyaman
    bagai bunga di dalam taman
    banyak dikunjungi wisatawan
    sungguh menarik perhatian
    di sana aku dilahirkan
    dan aku dibesarkan di kota kesayangan... :)

    *ngiderin kantong recehan*
    dominggus
    August 19, 2005   03:31 PM PDT
     
    Sore pakde...
    .Wah aku sering mampirt ke warteg bahari yang deket kantor Pakde itu. Jangan-jangan kita pernah ketemu ya? :)

    Temanggung "Bersenyum", Boyolali (Buaya Lupa) "Tersenyum"

    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive