![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
18.8.05 | 09:49
Upacara 17-an Kembali ke masa sekolah. Tapi dulu tak ada pembagian kue.
AKHIRNYA saya penuhi undangan itu. Ikut upacara peringatan kemerdekaan di markas besar. Pakai baju putih dan celana hitam. CEO jadi inspektur upacara. Pertama kali dalam hidup saya selama bekerja di kumpeni ini. Sebuah kemajuan. Tahun depan saya, untuk pertama kalinya, kalau masih diundang, akan ikut pesta korporat awal tahun. Belajar srawung, belajar gaul. Saya lupa kapan terakhir kali ikut upacara 17-an. Mungkin saat SMA. Pernah, lima tahun lalu, saya diundang Pak RT dan Pak RW ikut upacara 17-an di lapangan. Saya bangun kesiangan. Sampai di sana sudah bubar. Upacara di markas besar itu mengesankan. Tiba-tiba kami yang beragam, dari pelbagai divisi, bisa pakai seragam, dengan topi putih pembagian. Sebuah selingan yang baik. Pakai paskibra ala upacara kenegaraan. MC-nya, orang dalam, pakai setelan bagus [kabarnya bukan sewaan]. Ada orkes tiup pulisi yang bisa menyanyikan lagu Peterpan. Penonton mengharapkan medley-nya Nusantara I sampai entah berapa dari Koes Plus, tapi yang mengalun malah Love is a Many Splendoured Thing [Sammy Fain/Paul Francis Webster] ala Matt Monro, mirip ruang karaoke oom-oom eh... opa-opa [cocok buat saya sih], sehingga saya nyeletuk, "Ini lagu pesanan para komisaris." Mangsud saya komisaris besar mandornya orkes pulisi itu. Orkes sangkakala macam itu cocoknya membawakan Fanfare for the Common Man-nya Emerson, Lake & Palmer. Kue pembagian saya bawa pulang. Utuh. Dulu saya malas, atau mungkin malu, melakukan itu. Setelah punya anak, dengan riang dan ringan saya bawa kardus itu. Saya ingin pengalaman kanak-kanak saya, dibawakan oleh-oleh oleh Bapak dan Ibu, terulang oleh anak saya. Nyatanya mereka senang. Jadi bapak yang baik itu mulia. Tapi jadi suami yang baik, duh... susah banget yak belajarnya. Namanya juga pria merdeka. Hidup Indonesia. Dirgahayu tak iya!
Previous Entry * Home * Next Entry |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||