KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    16.8.05 | 05:06
    Sudah Merdeka, Ya Berbahasa Indonesia. Tapi Macam Mana?
    Nama-nama asing itu akhirnya kembali lagi. Jangan dilarang. Itulah bianglala Indonesia.
    masih adakah dialog panggung macam ini? BELASAN tahun yang lalu, sebelum merayakan 50 tahun Indonesia Merdeka, pemerintah mencanangkan penggunaan bahasa Indonesia untuk nama tempat. Maka Palm Court Apartment di Mampang, Jakarta Selatan, pun berubah nama menjadi Apartemen Palma Citra. Green Garden Housing di Jakarta Barat menjadi Perumahan Gren Garden. Jade Apartment di Mangga Dua menjadi Pesona Bahari, dan orang sering dikelirukan oleh Apartemen Mitra Bahari di Jalan Pakin, dekat Museum Bahari. Gedung bernama Gateway, di Jalan S. Parman, menjadi Gerbang Mas. Spring Garden di Pondokgede menjadi Puri Gading. Delicious Cake & Bakery di Jalan Hayam Wuruk menjadi Roti & Kue Delisius. Senayan Square, yang bukan lapangan, sempat menjadi Sentral Senayan.

    Saya lupa, pencanangan itu cukup dengan sabda atau dituangkan ke dalam dokumen Keppres. Hasilnya: kini Palma Citra kembali menjadi Palm Court. Sebagian nama asing yang sempat diindonesiakan memang sudah kembali ke nama asal.

    Saya termasuk tak setuju pengindonesiaan nama secara paksa, dengan sasaran utama bahasa Barat [dan mungkin Cina] itu. Memang untuk merek asing dari korporat global pemerintah sejak awal mau menerima. Tapi untuk merek domestik berbau asing, yang bukan bagian dari matarantai bisnis global, sebaiknya juga dibiarkan saja.

    Saya mencintai Indonesia dan bahasa Indonesia [beserta kekacauan bahasa saya pribadi], dengan catatan saya menerima Indonesia sebagai sebuah gado-gado. Bahkan nama "Indonesia" pun dari bahasa asing — dan Sansekerta pun saya maklumi sebagai sesuatu yang mulanya asing. Memang Zakaria M. Passe pernah menulis di Tempo, Kesultanan Aceh pada abad belasan pun sudah memakai kata "Indunusia". Saya menghargai temuan itu, bahkan menghormatinya, tapi saya masih merujuk asal muasal "Indonesia" yang dari bahasa Barat.

    Saya bersyukur, negeri sontoloyo ini sejak awal telah menemukan bahasa nasionalnya. Tak perlu bersilang sengketa berebut pengibaran bahasa suku dengan hasil kompromistis khas negeri baru: akhirnya bahasa eks-penjajah menjadi bahasa nasional. Masri Singarimbun pernah menduga, persoalannya bukan sekadar bahasa Melayu kadung jadi lingua franca, melainkan juga lantaran suku Melayu bukan mayoritas. Mungkin maksudnya, jika bahasa Jawa yang dijadikan bahasa nasional, maka bubarlah republik ini. Bahwa bahasa Indonesia akhirnya semakin menjawa, termasuk dalam blog ini, rangkaian penyebabnya terlalu panjang untuk dipapar.

    Saya tidak anti-alih-bahasa. Jika menyangkut dokumen resmi pemerintahan dan segala nama jabatan dinas, maka sebisa mungkin menggunakan kata serapan dan asli. Mestinya istilah lawas "operation room" di kantor bupati, wali kota, dan gubernur [kenapa bukan "gupernur" atau "guvernor"] sudah punah sekarang. Tapi untuk nama diri, termasuk merek dagang dan nama bangunan, setiap orang boleh memilih nama. Mau menggunakan "nama lokal" silakan, mau "berasing-asing" [termasuk Arab maupun Hindi -- atau bahkan Ibrani] ya biar saja.

    Mana yang lokal, dan mana yang asing saja masih membingungkan. Kenapa harus main paksa? Padahal si pemaksa, dalam hal ini pemerintah dan birokratnya, masih kacau dalam berbahasa. Mau contoh? Tertulis "unit" dan "komputer", tapi sebagian dari mereka masih melafalkannya "yunit" dan "kompyuter".

    Eh, tapi tak apa kan? Namanya juga merdeka. Tulisan gombal macam ini, dengan topik bahasa, juga merdeka untuk muncul sekarang, tak harus menunggu Hari Sumpah Pemuda. Mereka yang tak sepakat akan saya hardik, "En kowe orang extreemist."

    Saya sewenang-wenang? Hmm, penindasan, serta kesewenangan, banyak lagi, teramat banyak untuk disebutkan [ingat Bongkar-nya Swami?], itulah yang juga kita pelajari selama 60 tahun merdeka.

    buku remy sylado

    BUKU REMY SYLADO | Celoteh soal bahasa dari poliglot dan munsyi macam Yapi Panda Abdiel Tambayong alias Alif Danya Munsyi selalu mengasyikkan untuk dibaca. 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing [Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2003] dan Bahasa Menunjukkan Bangsa [Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2005].

    Name
    August 21, 2005   11:46 PM PDT
     
    Kalo istilah komputer, terutama software, sebaiknya segera di indonesiakan. Cepat atau lambat.

    Kita para blogger gak akan sadar, sampai tiba saat memberi pelatihan pada orang-orang dari 'daerah, pada jabatan apa-pun'. Nangis darah deh.
    DWIBROWN
    August 20, 2005   10:33 AM PDT
     
    setuju! mestinya kita mensyukuri adanya keragaman bahasa ya? belajar mengekspresikan dengan berbagai "gaya bahasa" akan terasa indah sekali!! lagian penerbit kamus bakalan untung, karena bukunya jadi lebih tebal... (",)
    'ka
    August 19, 2005   06:27 AM PDT
     
    thank you... thank you... thank you for writing this posting... :) 'cuz it's sooo true...

    kenapa juga musti maksain?? krn kebnyakan yg dipaksain, trus ditambah kata2 baru, dibener2in lah ato diganti artinya, dll. yg ada jadi pusing if you don't keep up...
    sa
    August 18, 2005   03:38 PM PDT
     
    saya pingin baca buku itu. *hiks*
    fitria
    August 17, 2005   07:31 PM PDT
     
    bener om asal kata indonesia itu dr bahasa asing, mnurut temen saya yang orang greece, indonesia itu artingnya little india (dalam bahasa greek).he.. saya aja yang orang indo baru taw geto loooh..
    keterangan lebih lanjut.. silahkan cari sndiri =)
    boit
    August 17, 2005   05:32 PM PDT
     
    jadi inget iklan susu.. "why pesawat can fly ?"

    hayah..
    spf#01
    August 17, 2005   01:38 AM PDT
     
    yang penting tujuan komunikasi tercapai ... dan tidak asal berdengung ... jika punya pilihan kata yang 'sudah umum' dibahasa indonesia, kenapa harus pake istilah asing? misalnya orang-orang yang suka mendengungkan 'basicly' - (basically??) kadang sudah salah tempat, memakainya pun salah ...
    mpokb
    August 16, 2005   02:10 PM PDT
     
    untuk istilah komputer, aye masih lebih suka pake bhs inggris. aneh kalo kita belanja ke glodok terus bilang, "Koh, beli tetikus dong!"
    romeo juliet
    August 16, 2005   01:33 PM PDT
     
    gw fine2 aj dgn gaya bahasa gw.
    wataw wadezig!!!
    idban
    August 16, 2005   12:36 PM PDT
     
    pak de, iku pon nggo tulisan ekstrimis opo jenenenge? aku mbok njaluk
    topan
    August 16, 2005   12:30 PM PDT
     
    kenyataan yang ada, bahasa nasional kita adalah bahasa jakarta, coba dengarkan siaran radio daerah-daerah,semua bahasa jakarta " betool..." ( dibaca dg logat Kiwil loh
    dominggus
    August 16, 2005   12:11 PM PDT
     
    Wah bukune panjenengan yang berat-berat Pakde.... :)
    Ben
    August 16, 2005   11:37 AM PDT
     
    Merek dagang kok disuruh ganti-ganti. dasar pejabat kurang kerjaan.

    lagian, kalo pakai bahasa asing semua kan sekalian bisa belajar bahasa asing...
    didats
    August 16, 2005   10:32 AM PDT
     
    hahahahah
    *ketawa liat tulisan kowe ekstrimis*
    sontoloyo
    August 16, 2005   08:56 AM PDT
     
    negoro senenge ngosak-asik sejarah, ngapusi sejarah marang generasi mudane ... kok ngaku merdeka :)
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive