KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    20.6.05 | 13:05
    Makian di Kampus Seni
    Pendek makiannya, panjang ngalor-ngidulnya. Itulah posting kali ini. :D

    makian adalah bagian dari kekayaan bahasa

    "NGEN***!" KATA ITU BERHAMBURAN DARI PENTAS DAN PENONTON. Dua gadis kecil saya termasuk di antara penonton. Istri saya, yang duduk sejauh tiga meter dari saya dan dua anak saya, mengedipkan mata ke arah saya, angkat bahu sedikit, menggelang pelan. Saya mengangguk pelan. Tetap tenang. Saya sudah membekali anak saya, terutama yang besar, tentang kosa kata yang beredar di Plaza Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, malam itu, sebagai bagian dari IKJ Jumpstreet. MC meneriakan "ngen***" berulang kali. Beberapa pemain band yang bergantian manggung juga begitu. Bahkan salah satu lagu yang diusung sebuah trio [apa namanya? Servis Motor?], yang pada mulanya bermain manis ala The Police, ketika memainkan metal-bising-penuh-amarah menyelipkan seruan itu dalam lagunya. Malam itu saya menjalankan tugas parental advisory secara live, dari sajian live, bukan yang dari CD yang sampulnya diberi stiker oleh pihak label dan distributor.

    Acara itu memang bukan tontonan keluarga. Memang sih ada anak-anak kecil selain anak saya. Mereka itu bocah-bocah sekitar Kalipasir yang biasa keluyuran di TIM dengan kaos sepakbola dan sandal jepit, yang kalau mencoba mesin video games di bioskop TIM 21 akan dihalau oleh satpam bersafari. Malam itu sepulang bersantap di Happy Belly Cikini kami ke IKJ, menyusuri lorong gelap di belakang TIM, yang sejak dari teras gelap galeri di samping bioskop sampai teras-teras dan sudut kampus sudah diisi beberapa anak muda pacaran, sebagian dengan tangan yang menghilang di balik baju atau jaket pasangannya.

    apakah mereka juga menyebut manusia sebagai makian? Bekal untuk Menyusuri Kehidupan
    Itulah realitas. Biarlah anak-anak saya tak terlalu kaget misalnya lain kali, di tempat lain, melihat tanpa dampingan orangtuanya. Si kecil menengok ke arah saya dengan wajah bingung. Si besar senyum, rada jengah. Ibunya menggamit lengan saya, berbisik sangat pelan, "Sialan! Dasar anak-anak sekolah seni..." Tak perlu membandingkan dan harus pergi ke belahan dunia lain. Di negeri sendiri pun ada. Parental advisory memang gampang-gampang susah, apalagi hahahaha... setiap orangtua juga pernah muda dan malah mungkin sangat nakal [bahkan sampai tuanya juga]. C'est la vie...

    Malam itu apa yang ditanyakan secara verbal harus segera dijawab. Yang tak terucap tapi menyorotkan tanya kami jelaskan dalam perjalanan pulang. Tak selamanya anak-anak dalam genggaman orangtuanya. Tak selamanya yang ditanamkan dalam rumah selaras dengan apa yang terjadi di luar pagar. Kami harus menyiapkan. Pada saatnya anak-anak itu sepenuhnya lepas dari kami. Bahkan sebelum sampai ke sana akan ada batas usia ketika mereka bukan kanak-kanak sehingga butuh takaran kebebasan lebih banyak. Sama seperti beberapa kali menjelaskan kenapa para mbak usia SMA dan kuliah sampai tengah malam, sepulang kami makan dan nonton, masih ada di Citos, di tengah kepulan asap rokok dan aroma kopi, dan tak tak dicari papa-mama. Sama seperti menjawab keinginan si besar kapan boleh minum wine... [ah ingat film indah The Sound of Music: "you are sixteen go on seventeen... -- tapi anak saya masih bocah, belum 16 tahun].

    mulut bisa ledakkan bom lewat kata Pak Kayam dan Mama Dolly
    Kembali kepada soal makian. Saya bukan ahli linguistik dan kemampuan berbahasa saya sangat cekak, tapi saya menganggap makian adalah bagian dari kekayaan bahasa setiap bangsa. Di sisi lain saya idem ditto dengan almarhum Umar Kayam yang ketika ramai orang menyoal kecenderungan eufemistis, ia mengingatkan bahwa eufemisme adalah bagian dari peradaban. Lha iyalah. Saya mengartikan ucapannya sebagai ini: kita tahu mana yang tepat digunakan sesuai tempat dan waktu, yaitu mati, tewas, modar, mampus, wafat, berpulang, mangkat. Juga, jangan lupa: kawin, bersetubuh, bersebadan, bersanggama, bercinta, saresmi, karonsih, bersatu raga, bersatu rasa...

    Kamus yang baik karena mengaku lengkap, menurut saya, adalah kamus yang juga memuat kata makian dan nama unsur genital dalam bahasa non-ilimiah. Tanpa itu kamus-kamus hanya menjadi buku sontoloyo karena gagal merekam perbendaharaan kata, luput mengamati ruasnya batang zaman. Ketika mengintip sebuah kamus di toko, termasuk kamus Mandarin -Indonesia, atau Jepang-Indonesia [vise versa] yang ada huruf latinnya, saya juga mencari kata-kata jorok. Sayang, saya tak ingat apa saja kata itu.

    Bahwa sebuah kata akan dipakai, katakanlah, dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan, itu butuh pertimbangan yang lain lagi. Saya pernah menangani naskah mentah wawancara seorang teman dengan Mama Dolly, pemilik nama yang diabadikan untuk tempat pelacuran di Surabaya. Kosa kata si mama memang sangat Dolly. Kata [maaf] "lonte" saya biarkan muncul berulangkali, karena naskah itu adalah transkripsi kutipan langsung. Atasan saya jengah dan menggantinya dengan kata lain. Adapun naskah pengakuan Hartono, germo [dalam bahasa Jawa lama berarti pemburu harimau] atau mucikari legendaris, saya biarkan apa adanya, karena dia cuma menyebut "bisnis wedokan". Bagaimana dengan puisi Sutardji Calzoum Bachrie yang menyebut pubic hair sebagai "j*****", dan ketika dibacakan oleh si penyair mengundang protes? Apa boleh buat kami menyensornya. Tapi saat itu saya ingat, sebuah buku panduan seks suntingan pastor, terbitan penerbit Katolik Cipta Loka Caraka, dalam ilustrasinya juga menyebut "j". Orang bisa saja berdebat, kalau namanya memang itu masa sih mau disebut lain? Tapi persoalannya kan mau disebutkan di depan siapa, dan kepada siapa saja. Setiap bangsa dan kelompok sosial punya batasan secara situasional. Tergantung konteks, begitulah. Maka salah satu cerpen Tardji, si raja kata si raja makna, yang dimuat di Kompas, dibiarkan beberapa kali menyebut "hijau yang kelonte-lontean".

    yeahhhh gitulah Keparat Orang Beriman
    Ahli antropologi dan etnografi mungkin punya catatan berapa banyak makian yang dimiliki sebuah suku penyendiri yang niraksara dan hanya [katakanlah] punya seribu kata. Bagi saya makian adalah saluran ekspresi verbal manusia. Maka izinkanlah saya sok tahu. Saya menduga, pada banyak bangsa makian merupakan turunan dari ini: kekurangan fisik, satwa, perilaku dan aktivitas seksual, genitalia, keluaran sekresi [terutama feses dan urine], kondisi kejiwaan, pekerjaan atau satus sosial, atau gabungan unusr tadi. Karena makian ditujukan untuk menyatakan dan sekaligus memancing amarah maka pada beberapa bangsa nama genital atau aktivitas seksual digabung dengan panggilan untuk ibu. Misalnya "****mai/mak", "****mbokne", dan "mother*****" atau "son of a b****". Mesin siaran langsung televisi kita belum mampu mem-beep-kan dirty words, tapi untung para artis dan pesohor mau berhati-hati.

    Seiring perjalanan zaman, beberapa makian, atau kata kasar, akhirnya bisa diterima. Setidaknya untuk kalangan terbatas, tapi orang lain menoleransi. "Diancuk"-nya orang Jawa Timur [bermakna kopulatif], dalam situasi tertentu bisa menjadi ekspresi keakraban. Suatu hari dalam pelayatan seorang teman yang meninggal dalam pendakian salah satu puncak dunia, ayah teman saya bertemu ayah teman lain lagi. Kedua sepuh itu sama-sama eks-Tentara Pelajar. Salam pertama karena kaget puluhan tahun tak jumpa, meski di tengah pelayatan, adalah: "Diancuk! Piye kabare?"

    "Bus[y]et", "edan", "gila", akhirnya ditoleransi untuk mengekspresikan kekaguman atau iri [bukan dengki] -- selain kekesalan. Adapun "bajingan" [konon dalam bahasa Jawa lama juga berarti kusir pocokan atau non-batangan untuk pedati] masih setengah ditoleransi oleh banyak kalangan, tapi mengalami pelunakan menjadi "bajigur", "bajirut" dan "barjiman" ["bajindul" dan "bajinguk" masih agak kasar]. Saya sempat terlonjak waktu seorang blogger [halo, apa kabar, Non?], yang jauh lebih muda daripada saya, memaki saya "bajingan!" via telepon, padahal belum pernah bertemu, dan kesalahan saya waktu itu hanyalah mengaku bahwa saya punya nomor pascabayar [ini lawannya prabayar ya?] Telkomsel sejak 1997. Saya kaget bukan karena heran disebut itu [kayaknya pantas sih...], tapi takjub kenapa dia punya kosa kata itu, terpekikkan spontan pula.

    Lha kalau "bedhes", artinya monyet, malah dipakai Kayam untuk panggilan kesayangan anak pembantunya. Kere, itu juga makian sopan dari kalangan sok priyayi. Adapun "anjing" [dan "asu", juga "anjrit"], dalam rapat formal terbatas di sebuah perusahaan yang pesertanya boleh angkat kaki, apapun kedudukannya secara struktural, bisa terlontar kapan saja. Sejauh ini tak masalah.

    Kalau keparat? Secara etimologis itu berasal dari kafirun atau kafir. Jadi, bisa saja itu kita artikan umpatan yang dilontarkan oleh kaum beriman. Ah, masa sih orang beriman bicara kasar? Tapi, mana bisa orang tak/kurang beriman menjadikan "kafir" sebagai luapan kemarahan; bukannya itu di luar "kewenangan moral" mereka? :) :P :D


    kere kemplu
    June 27, 2005   10:51 AM PDT
     
    asyik. bagi saya persoalannya bukan ikj, tapi pisuhan. saya juga tak menjenderalkan [menggeneralisasikan] anak ikj. soal misuh juga ada di mahasiswa fakultas teologi dan sebagian alumni seminari. saya pun kadang, atau mungkin sering, misuh. bedanya, saya hipokrit, tak berani melakukan di depan anak-anak saya.
    hampirpagi
    June 26, 2005   10:14 PM PDT
     
    Makasih ni sekolah saya terpampang di blog ini walaupun yang dibahas lagi-lagi kalao anak ikj tuh "semaunya doyan ngomong jorok"... Saya sendiri gak tau kenapa sebagian anak2 ini merasa jadi orang paling "asik" sedunia... Tapi gak apalah, masih banyak anak IKJ yg normal seperti nona cyan :)... mudah2an bapak gak kapok main-main lagi ke sekolah kami yah, kami anak baik-baik kok... hehehe...
    Totot
    June 22, 2005   11:58 AM PDT
     
    Nggak perlu kelewat risau, Bos! Komunikasi nggak pernah berlangsung satu arah. Manusia, ternyata, nggak menelan mentah-mentah semua masukan yang diterimanya -- melalui iklan, berita, dan produk budaya lainnya. Manusia punya kemampuan untuk mencernanya. Seperti idiom yang populer itu: rakyat menunduk saat raja lewat., tapi mereka menunduk sambil kentut. The power of the powerless... Berapa banyak di antara kita yang dulu rajin membaca stensilan dan nonton BF (masih 8mm, hehe)? Sekarang, berapa banyak yang menjadi gigolo dan pemerkosa? BTW, jadi Bapak memang pekerjaan "intelektual" yang amat sangat menarik!
    nona cyan
    June 21, 2005   11:16 AM PDT
     
    bulan2 pertama saya kuliah di IKJ, memang mengalami culture shock. dengan kekasaran,kebinalan,kejorokan,
    kekisruhan,kecuekan...
    ah pokoknya acak adul amburadul deh.
    Belum lagi dulu WC nya yang unisex dan...dinding penuh cipratan darah para pakaw-ers.
    Kata-kata yang keluar memang sering kurang ajar.TAPI..itu generalisasi.. dan gak semua anak IKJ seperti itu.Bertahun-tahun saya terbiasa mendengar mereka memaki,(untungnya nggak ketularan) jadi mengerti alasan bahwa mereka harus selalu terlihat "keras".
    Untuk soal pasangan2..dari dulu banyak anak2 luar yang berpacaran anonoh di sekitar lingkungan kampus.
    mpokb
    June 21, 2005   10:39 AM PDT
     
    tergantung niatnya sih bang.. kalo mau berseni ria, yang katanya bagian budaya , apa pun bisa diangkat. toh realitas sehari2 juga yang antara lain melahirkan seni. tapi kalo sekadar memuaskan syahwat dan melepaskan diri dari "keterkekangan" yg "ada" selama ini, gak usah repot2 sekolah tinggi2. trus tujuannya berseni itu apa, selain memancing polemik? tapi yg seperti itu katanya memperkaya khazanah.. entahlah.
    lenje
    June 21, 2005   01:58 AM PDT
     

    saya secara sepihak menyebut diri sendiri "keparat pemerintah", hehehehe...
    greg
    June 20, 2005   06:40 PM PDT
     
    ASU* tulisan ini uapik tenan. Bung kalau temannya misuh-misuh gini cerdas deh...


    *untuk anak Joga ini bentuk pisuan yang berkonotasi untuk memuji..BAJINGAN yo?
    lantip
    June 20, 2005   04:18 PM PDT
     
    bedebah. kata itu saya kenal pertama kali melalui drama radio brama kumbara si satria madangsega. hmm.. terus apa hubungannya dengan tulisan ini? ndak ada... hehe.. cuman mo ikut nimbrung. duh.. lapar.. :(
    Qky
    June 20, 2005   04:08 PM PDT
     
    masak anak IKJ neriakin "TUTUN", yak... ngga "art", dong, Oom
    didats
    June 20, 2005   04:02 PM PDT
     
    kesian anaknya diajak kesana... :(
    boit
    June 20, 2005   01:42 PM PDT
     
    huhuhu.. mau ikutan komen tapi s***! ngga' nemu kata yang tepat. d***! a*****! g***! k*****!
    :p
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive