|
|
17.6.05 | 21:40
TIGA BUKU. Cracking Da Vinci's Code [James L. Garlow & Peter Jones, edisi Indonesia oleh Bhuana Ilmu Popular, Jakarta, 2005], The Da Vinci Code (Kode Da Vinci) [Dan Brown, edisi Indonesia oleh Serambi, Jakarta, 2004], dan Fakta dan Fiksi dalam The Da Vinci Code [Steven Kellemeier, edisi Indonesia oleh Optima Pers, Jakarta, 2004].
BOLEHKAH ORANG MARAH TERHADAP SEBUAH KARYA? Boleh. Sangat boleh. Sama bolehnya dengan orang terhibur, bahkan terkayakan secara batin, oleh sebuah karya. Jadi kalau orang marah, atau setidaknya tersinggung, oleh The Da Vinci Code karya Dan Brown, itu tak soal. Menjadi masalah bagi saya jika kemarahan itu -- misalnya saja -- disusul oleh usulan agar pemangku kekuasaan dan kewenangan, termasuk negara, melarang buku itu, bahkan memusnahkannya secara paksa, mana pakai razia pula. Lebih aneh lagi -- maksud saya: mengerikan -- bila disusul dengan perintah bunuh terhadap si penulis.
Sepanjang isi sebuah buku, atau web, atau video, bukanlah petunjuk terinci merakit bom, bukan panduan pedofilia dan bestialisme, bukan petunjuk pembersihan etnis, maka tak perlu dilarang. Cara untuk menerangi khalayak adalah membuat buku tandingan yang menyodorkan koreksi.
Bagaimanakah jika khalayak lebih terpikat, bahkan percaya, oleh buku yang "salah"? Ya coba terus dong. Lawanlah gagasan dengan gagasan, pikiran dengan pikiran, hati dengan hati. Seperti yang dilakukan oleh teolog Peter Jones, teman dekat John Lennon semasa bocah itu. Klaim atas fakta dibantah oleh klaim atas fakta pula. Tafsir sejarah disangkal dengan tafsir sejarah.
Marahkah saya terhadap Kode Da Vinci? Tidak. Terganggukah? Tidak. Terhiburkah? Ya. Sungguh sebuah novel yang mengasyikkan. Jalinan dan alur ceritanya menegangkan. Yesus dicitrakan lebih human. Andaikata benar bahwa Yesus ternyata menikah, bahkan punya anak, terguncangkah "iman kristiani" saya? Tidak. Jawaban gombalnya adalah ini: dalam kredo, atau sahadat, atau pengakuan iman rasuli, tidak ada pasal "percaya kepada Yesus yang melakukan selibat sepanjang hayat". Lha kalau di luar urusan Kode Da Vinci, artinya dari sumber lain, ternyata akhirnya terbukti bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian pada hari ketiga bagaimana? Bukannya bangunan iman dan dogmatika akan runtuh karena fondasinya -- yaitu kredo tadi -- ternyata rapuh? Secara pribadi, sampai hari ini, hipotesis ini belum mengganggu saya. Yang ingin saya dapatkan adalah sebuah jalan terang, dari yang Dia ajarkan, meski yahhhh tak kunjung dapat.
Cara pandang saya mungkin tak lumrah. Tapi sampai hari ini saya masih memegangnya dan tak menganggap cara pandang orang lain salah. Sejarah kekristenan, termasuk sejarah gereja, banyak kelok. Sebagian yang baku dibangun dari tradisi dan bahkan konsensus [Yesus tidak lahir 25 Desember tahun 0, kan? Alkitab juga melalui proses kanonisasi kan? Dogmatika dasar dirumuskan oleh para rasul, berdasarkan tafsir terhadap penyataan dan perbuatan Sang Sumber Utama, kan?]. Ada masa gereja dan pemukanya salah. Namanya juga manusia. Kalau lembaga semacam gereja itu isinya orang suci semua, begitu pula semua orang di luarnya, maka tugas agama selesai. Agama adalah sistem nilai yang diklaim berasal dari Kuasa di atas manusia dan dunia, yang ditawarkan kepada manusia agar kehidupan menjadi lebih baik. Tak ada paksaan untuk menjadi the true believers maupun agnostik. Kehidupan beriman yang dewasa sekaligus mengasyikkan, menurut saya sampai hari ini, adalah beriman dengan kegelisahan, yang kadang diisi keraguan, kegamangan, pertanyaan, bahkan gugatan.
 |  |  | umar December 22, 2005 04:20 PM PST
Di web sitenya sendiri, si Dan udah ngomong itu cuma novel. orang cari duit memang banyak cara. urusan neraka atau sorga ditaruh dibelakang sendiri. itulah sistem ekonomi kapitalis, duit sentris. moga2 si Dan bisa menikmati duitnya. Sudah banyak buku mengcounter tulisan itu, salah satunya "Fakta dan Fiksi dalam The DVC" karya Steven Kellemeier. cukup bagus |  |
  |  |  | windede December 21, 2005 01:18 PM PST
posting ini kelewat om. tapi bukan topik yang terlambat untuk dibaca. saya senang dengan sikap dan cara pandang anda.
beragama "secara dewasa" memang mengasyikkan... |  |
  |  |  | matador September 9, 2005 04:47 PM PDT
jangan coba-coba nulis tentang islam yeee... FATWA BUNUH! kena boom you! |  |
  |  |  | b3a June 23, 2005 01:57 PM PDT
wah setuju banget nih ama postingannya... iman seseorg memang lebih diperkuat dgn mempertanyakan, meragukan dan menggugat ajarannya..but one thing that I learn about religions that sometimes there are things that can't be questionned and will remain questionable and by making a peace with it and accepting it that we will find the answers. |  |
  |  |  | nona cyan June 21, 2005 11:21 AM PDT
mungkin perang nggak ada kalo semua orang di dunia ini agnostik |  |
  |  |  | melly June 20, 2005 08:27 PM PDT
memanglah penggombal berat :) tapi melly setuju banget ama paragraf2nya, terutama di akhir2 |  |
  |  |  | dominggus June 20, 2005 05:53 PM PDT
Ya aku setuju Pakde...iman berarti juga menyisakan ruang untuk keraguan, ruang untuk pertanyaan akan kebenaran. Bukankah ini yang membuat iman seseorang bertumbuh?
Lagipula apa gunanya beriman kalau kita sudah mengetahui kebenaran itu 100%?
Met sore Pakdhe! |  |
  |  |  | Qky June 20, 2005 03:48 PM PDT
..Tak ada paksaan untuk menjadi the true believers maupun agnostik..
Hanya menggaris-bawahi, tak kunjung muncul keberanian berkomentar, Oom. Keknya, butuh proses, nich, Pakde, mengunyahnya.
btw, saya suka Dawam, juga cerpen guk-guk itu, saya suka bagaimana ia menginterpretasikan dan memposisikan sudut pandangnya pada ranah konflik, fiqih, dengan ending yg menyudutkan kita sebagai makhluk, sebagai yg bukan Maha Kuasa dan Maha Benar dan Tepat. bagus sekali. |  |
  |  |  | Bril June 20, 2005 12:05 PM PDT
saya selalu tertarik menggali informasi mengenai agama (apapun).baru selesai baca "the Crusade"-nya Karen Armstrong. Byk fakta yg sama dgn yg disampaikan Dan Brown (baik di Da Vinci maupun di Angel and Demon).
Btw, bln Juli topic of the month-nya NG tentang unlock the da vinci codes, ya, bos? |  |
  |  |  | dob June 19, 2005 10:58 PM PDT
mantap...mantap! kalau bukunya salman rusdie yang juga heboh itu, om punya gak? pinjem dong...hehe |  |
  |  |  | masih nyari tuhan June 19, 2005 08:46 PM PDT
waduh boss lagi ngomongin tuhan dan agama :o hehehe..
sepp.., saya sepakat, bos, kalaw keimanan kita ngga mesti terganggu dgn hal2 kontroversial. malah kalaw bisa diperkuat ama hal itu.
malah saya justru nemuin kebenaran ttg tuhan dari tulisannya nietzchs, sartre dan para ateis-ateis itu, dibanding dari pengkhotbah telepisi.
keimanan dgn kegelisahan, bikin saya kepikir ama achmad wahib, bos :) |  |
  |  |  | boe June 19, 2005 07:15 PM PDT
jarang-jarang bicara soal agama pak dhe .. (apa saya nya yang kurang sering mampir kemari ya) |  |
  |  |  | lenje June 19, 2005 03:56 PM PDT
saya sih terus terang saja terganggu juga kalau ada yang jelas2 mengusik kepercayaan yang saya anut (walaupun belum tentu bereaksi). belum sedewasa mas kere, hehehehe... di sisi lain, sejalan dengan iman yang saya yakini, saya tidak melihat justifikasi untuk mengganggu balik pengusik itu, apalagi mengeluarkan perintah membunuh. lah wong bukan saya yg menciptakan kok saya yang mo mengambil nyawa... serahkan saja pada Yang Punya Hak. saya setuju 100% dgn mas kere, bahwa "pembalasan" dilakukan dengan menulis bantahan, secara sistematis. |  |
  |  |  | loucee June 18, 2005 09:40 PM PDT
topik top mister! saya selalu gatal untuk comment hal2 beginian.
memang ini adalah sebuah buku yang sangat berani dan menyegarkan. seumur hidup saya belum pernah ditantang dengan sebuah pemikirian bahwa yesus memiliki keturunan. terlepas bahwa itu fakta atau fiksi, yang jelas udah bisa bikin saya berpikir. gak cuma tentang yesus tapi juga merembet ke hal-hal lainnya seperti lembaga gereja, doktrin katholik, dsb, dsb, termasuk mungkin dominasi kekuasaan pria.
sebagai orang yang lahir dan dibesarkan secara katholik. dulu saya rajin sekali ke gereja karena 1)kebiasaan, 2) takut dimarahi orang tua. ketika semakin besar, bukannya keteguhan iman yang saya dapat, malah rasanya saya jadi semakin sering mempertanyakan ritual-ritual yang biasa dilakukan ketika misa. apa tujuannya? pasti ada yang menciptakan. siapa? Tuhan? Yesus? atau manusia? selama ribuan tahun ritual tersebut diturunkan dan dijalankan dengan khidmat oleh umat katholik di seluruh dunia. harus saya akui bahwa sistem doktrinasi katolik yang dikendalikan Vatikan memang berjalan dengan sangat rapi, seperti yang menjadi highlight Da Vinci Code.
pada akhirnya saya memang berhenti ke gereja bukan gara-gara baca buku Da Vinci Code, tapi lebih karena merasa damai saat berdoa sendiri di rumah. somehow jadi lebih connect dengan Sang Pencipta yang saya bayangkan dalam bentuk kosmis alam, bukan pria kulit putih berjenggot coklat dan memakai jubah. |  |
  |  |  | lantip June 18, 2005 04:04 PM PDT
tuh kan.. lagi-lagi nggak bisa ngomong. salut pakde eh mas.. duh.. keren tulisannya. hmm.. saya sendiri baca novel itu, dan melihat ada beberapa kekurangan. tadinya pingin saya blog, tapi setelah saya pikir-pikir, lha wong ngeblog wae mikir mosok arep mbahas novel. ya sudah.. ndak jadi.. :D Oh, ada satu quote yang saya suka:"kita hidup, bukan sekedar untuk memperebutkan kapling tanah surga". taklim saya pakde sukangmas. :p |  |
  |  |  | mpokb June 18, 2005 10:24 AM PDT
wah, gak sabar nonton Tom Hanks memerankan Robert Langdon euy...
1. setuju, agama itu sekadar alat dan seharusnya bukan itu yg disembah.
2. spiritualitas atau religiusitas pada tingkat tertentu punya kesamaan dengan seksualitas, sesuatu yg sifatnya sangat pribadi dan luhur.
3. postingan ini sepertinya ringan, padahal berat banget
4. pria matang, penulis bagus.. duh..!! :P :D |  |
 |
Previous Entry * Home * Next Entry
|