KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    15.6.05 | 15:03
    Depak Depag? Eh, Nanti Dulu...
    siapa mau kaos ini?

    TAK AGAMIS DI DEPERTAMEN AGAMA. Itu judul boks berita, bagian dari judul utama "Skandal Dana Haji" di halaman muka Koran Tempo hari ini. Ironis? Mungkin. Trik jurnalistik dalam bermain judul? Ya. Tapi begitulah adanya. Depag memang tak bersih. Gus Dur pernah bilang departemen itu memang korup. Kompas pernah membuat laporan khusus yang intinya menyimpulkan bahwa kesediaan calon jamaah haji untuk bersusah-susah, sebagai bagian dari ujian untuk menunaikan rukun kelima, itu dimanfaatkan orang Depag untuk keuntungan pribadi. Bagaimana kalau Depag dibubarkan saja? Lho nanti dulu...

    Dalam negara kleptokratis setiap badan pemerintah yang menerima uang langsung dari masyarakat cenderung menyalahgunakan. Dari urusan haji yang jelas-jelas tak semata soal servis duniawi, sampai urusan pajak hiburan, asal ada duit berarti boleh dibelokkan. Ingat trisila birokrasi: kalau bisa lama kenapa mesti cepat, kalau bisa mahal kenapa harus murah, kalau bisa susah kenapa kudu dibikin gampang. Sila berikutnya silakan Anda perkaya. Hasilnya ini: biaya naik haji dari Indonesia lebih mahal dari negeri jiran. Teman saya, seorang pengelola rumah produksi, berhaji dari Malaysia dan berumrah dari Singapura. Dia bilang, setiap orang adalah tamu Allah, tak soal dari mana ia bertolak.

    Jadi kalau ada usul Depag dibubarkan saja, karena nyatanya korup, saya tak setuju. Jika prinsip itu diberlakukan maka banyak departemen yang akan ditutup. Artinya mesin pelayanan milik negara akan mangkrak -- sekunyuk dan sesontoloyo apapun departemen itu. Tapi kalau usul penutupan Depag itu bertolak dari keinginan bahwa sebaiknya negara tak terlalu mencampuri urusan keagamaan -- dalam arti tak membirokrasikan agama -- maka patut dipertimbangkan. Dengan catatan: terlepas dari korup tidaknya departemen itu. Urusan haji tetap ada yang menangani, sama seperti pemerintah kolonial melakukan [hmmm, saya teingat si kontroversial Snouck Hurgronje yang pernah menjadi konsul di Jeddah]. Bagaimana dengan peradilan agama? Duh, saya nggak tahu. Maaf. Tapi saya cuma mau menyampaikan ini: pembirokrasian urusan agama itu punya sisi yang aneh, sehingga ada agama yang tak diakui karena tak ada direktorat jenderalnya di Depag. Atau ada urusan yang digabung, misalnya Dirjen Bimas Hindu dan Buddha -- tapi tidak untuk Katolik dan Kristen. Mungkin saya kurang pancasilais, tapi yang enak menurut saya adalah: negara tak hanya menjamin kebebasan beragama melainkan juga kebebasan untuk tidak beragama. Biarlah religiositas dan spiritualitas itu menjadi urusan setiap pribadi -- apapun benderanya.


    didi
    June 25, 2005   04:25 PM PDT
     
    memisahkan negara dan agama?
    hmm... baunya seperti JIL,
    apa-apa diliberalkan, semua dibolehkan. mau menikmati dunia sebelum mati ya?
    untungnya semua pasti akan berakhir, dan satu tambah satu tetap dua biarpun togel merajalela
    Qky
    June 17, 2005   03:20 PM PDT
     
    tapi rakyat Indonesia tidak secerdas tuan, maaf :))
    btw, gus-dur pernah mengupas dikotomi agama dan negara
    yudi
    June 16, 2005   06:28 PM PDT
     
    ada cara gak buat menggantung sontoloyo sontoloyo koruptor dio departemen Agama itu ..??? departemen gak perlu bubarin aja ...bener agama kan banyak kenapa yang diaku cuma 5 ehehehehehe sontoloyonyaaa
    geekgirl
    June 16, 2005   04:32 PM PDT
     
    seteoejoe!
    gak perlu depag!
    biarlah agama jadi urusan masing2 lembaga atau kelompok.
    jadi gak ada pengakuan "agama resmi negara". aneh, mosok negara cuma ngakuin 5 agama. agama2 dunia kan buanyakk bangett..

    lastly: departemen pemerintah berkurang, berarti lahan korupsi berkurang..

    rifie
    June 16, 2005   01:14 PM PDT
     
    Depag salah urus sepertinya.. tak kuasa melihat uang mengalir begitu derasnya... hehhe...
    mpokb
    June 16, 2005   11:24 AM PDT
     
    haji sudah banyak diurus yayasan, kaum fakir diurus yayasan, orang tua diurus yayasan, anak yatim juga.. jadi departemen ngapain yak?
    melly
    June 16, 2005   10:20 AM PDT
     
    *berangan-angan* kapan ya hal itu bisa terjadi...

    negara tak hanya menjamin kebebasan beragama melainkan juga kebebasan untuk tidak beragama. Biarlah religiositas dan spiritualitas itu menjadi urusan setiap pribadi -- apapun benderanya
    lantip
    June 15, 2005   08:30 PM PDT
     
    pesan kaos satu pakdhe! ndak pake lama lho ya.. hehehe.

    fyuh.. hari ini capek sekali...
    gembres
    June 15, 2005   07:10 PM PDT
     
    apik tenan mbah..
    Imponk
    June 15, 2005   06:38 PM PDT
     
    tumben posting kali ini nggak nggombal :)) tapi asli, kaosnya itulooh...
    didats
    June 15, 2005   04:15 PM PDT
     
    baru tadi pagi denger masalah ini om...
    eh, udah dibahas disini... hihihi... :D

    ada temen, yang lulus di depag, dimintai duit 1 juta untuk uang masuk. *padahal, kalo gak salah, sby pernah bilang tak ada biaya*.

    lalu, untuk penempatan jabatan, dimintai lagi sebesar 2,5 juta. *lagi?*

    dan semua uang itu dikumpulkan dari kira2 400 orang baru di depag. berapa jumlahnya???

    dan yang paling nyleneh, permintaan duit itu, tanpa tanda terima!!! KACAU!!!
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive