|
|
15.6.05 | 15:03
Depak Depag? Eh, Nanti Dulu...
TAK AGAMIS DI DEPERTAMEN AGAMA. Itu judul boks berita, bagian dari judul utama "Skandal Dana Haji" di halaman muka Koran Tempo hari ini. Ironis? Mungkin. Trik jurnalistik dalam bermain judul? Ya. Tapi begitulah adanya. Depag memang tak bersih. Gus Dur pernah bilang departemen itu memang korup. Kompas pernah membuat laporan khusus yang intinya menyimpulkan bahwa kesediaan calon jamaah haji untuk bersusah-susah, sebagai bagian dari ujian untuk menunaikan rukun kelima, itu dimanfaatkan orang Depag untuk keuntungan pribadi. Bagaimana kalau Depag dibubarkan saja? Lho nanti dulu...
Dalam negara kleptokratis setiap badan pemerintah yang menerima uang langsung dari masyarakat cenderung menyalahgunakan. Dari urusan haji yang jelas-jelas tak semata soal servis duniawi, sampai urusan pajak hiburan, asal ada duit berarti boleh dibelokkan. Ingat trisila birokrasi: kalau bisa lama kenapa mesti cepat, kalau bisa mahal kenapa harus murah, kalau bisa susah kenapa kudu dibikin gampang. Sila berikutnya silakan Anda perkaya. Hasilnya ini: biaya naik haji dari Indonesia lebih mahal dari negeri jiran. Teman saya, seorang pengelola rumah produksi, berhaji dari Malaysia dan berumrah dari Singapura. Dia bilang, setiap orang adalah tamu Allah, tak soal dari mana ia bertolak.
Jadi kalau ada usul Depag dibubarkan saja, karena nyatanya korup, saya tak setuju. Jika prinsip itu diberlakukan maka banyak departemen yang akan ditutup. Artinya mesin pelayanan milik negara akan mangkrak -- sekunyuk dan sesontoloyo apapun departemen itu. Tapi kalau usul penutupan Depag itu bertolak dari keinginan bahwa sebaiknya negara tak terlalu mencampuri urusan keagamaan -- dalam arti tak membirokrasikan agama -- maka patut dipertimbangkan. Dengan catatan: terlepas dari korup tidaknya departemen itu. Urusan haji tetap ada yang menangani, sama seperti pemerintah kolonial melakukan [hmmm, saya teingat si kontroversial Snouck Hurgronje yang pernah menjadi konsul di Jeddah]. Bagaimana dengan peradilan agama? Duh, saya nggak tahu. Maaf. Tapi saya cuma mau menyampaikan ini: pembirokrasian urusan agama itu punya sisi yang aneh, sehingga ada agama yang tak diakui karena tak ada direktorat jenderalnya di Depag. Atau ada urusan yang digabung, misalnya Dirjen Bimas Hindu dan Buddha -- tapi tidak untuk Katolik dan Kristen. Mungkin saya kurang pancasilais, tapi yang enak menurut saya adalah: negara tak hanya menjamin kebebasan beragama melainkan juga kebebasan untuk tidak beragama. Biarlah religiositas dan spiritualitas itu menjadi urusan setiap pribadi -- apapun benderanya.
 |  |  | didi June 25, 2005 04:25 PM PDT
memisahkan negara dan agama?
hmm... baunya seperti JIL,
apa-apa diliberalkan, semua dibolehkan. mau menikmati dunia sebelum mati ya?
untungnya semua pasti akan berakhir, dan satu tambah satu tetap dua biarpun togel merajalela |  |
  |  |  | Qky June 17, 2005 03:20 PM PDT
tapi rakyat Indonesia tidak secerdas tuan, maaf :))
btw, gus-dur pernah mengupas dikotomi agama dan negara |  |
  |  |  | yudi June 16, 2005 06:28 PM PDT
ada cara gak buat menggantung sontoloyo sontoloyo koruptor dio departemen Agama itu ..??? departemen gak perlu bubarin aja ...bener agama kan banyak kenapa yang diaku cuma 5 ehehehehehe sontoloyonyaaa |  |
  |  |  | geekgirl June 16, 2005 04:32 PM PDT
seteoejoe!
gak perlu depag!
biarlah agama jadi urusan masing2 lembaga atau kelompok.
jadi gak ada pengakuan "agama resmi negara". aneh, mosok negara cuma ngakuin 5 agama. agama2 dunia kan buanyakk bangett..
lastly: departemen pemerintah berkurang, berarti lahan korupsi berkurang..
|  |
  |  |  | rifie June 16, 2005 01:14 PM PDT
Depag salah urus sepertinya.. tak kuasa melihat uang mengalir begitu derasnya... hehhe... |  |
  |  |  | mpokb June 16, 2005 11:24 AM PDT
haji sudah banyak diurus yayasan, kaum fakir diurus yayasan, orang tua diurus yayasan, anak yatim juga.. jadi departemen ngapain yak? |  |
  |  |  | melly June 16, 2005 10:20 AM PDT
*berangan-angan* kapan ya hal itu bisa terjadi...
negara tak hanya menjamin kebebasan beragama melainkan juga kebebasan untuk tidak beragama. Biarlah religiositas dan spiritualitas itu menjadi urusan setiap pribadi -- apapun benderanya |  |
  |  |  | lantip June 15, 2005 08:30 PM PDT
pesan kaos satu pakdhe! ndak pake lama lho ya.. hehehe.
fyuh.. hari ini capek sekali... |  |
  |  |  | gembres June 15, 2005 07:10 PM PDT
apik tenan mbah.. |  |
  |  |  | Imponk June 15, 2005 06:38 PM PDT
tumben posting kali ini nggak nggombal :)) tapi asli, kaosnya itulooh... |  |
  |  |  | didats June 15, 2005 04:15 PM PDT
baru tadi pagi denger masalah ini om...
eh, udah dibahas disini... hihihi... :D
ada temen, yang lulus di depag, dimintai duit 1 juta untuk uang masuk. *padahal, kalo gak salah, sby pernah bilang tak ada biaya*.
lalu, untuk penempatan jabatan, dimintai lagi sebesar 2,5 juta. *lagi?*
dan semua uang itu dikumpulkan dari kira2 400 orang baru di depag. berapa jumlahnya???
dan yang paling nyleneh, permintaan duit itu, tanpa tanda terima!!! KACAU!!! |  |
 |
Previous Entry * Home * Next Entry
|