|
|
14.6.05 | 19:35
BAHASA, dalam hal ini pilihan kata, menunjukkan posisi pengucapnya. Jadi kalau majalah sekelas Tempo pun memakai istilah "mantan teman kumpul kebonya" [Hukum, 12 Juni 2005 -- versi digital hanya untuk pelanggan] tentu punya alasan. Begitu pula SCTV beberapa bulan lalu -- meski barangkali itu sekadar meneruskan pilihan kata dari sumber berita. Atau Samarinda Pos ketika mengungkap kasus narkoba awal bulan ini.
Apapun yang mengambil kata dari dunia satwa, bagi sebagian orang, kadang dianggap menghina. Saya dulu senang menggunakan istilah "kandang monyet" atau "rumah monyet", karena istlah itu yang pertama saya kenal, untuk menyebut gardu jaga militer. Sekarang saya masih menggapnya enak, meski jarang menggunakan, bahkan baru ingat ketika mengetik tulisan ini. Tapi kalangan militer, termasuk menwa, tampaknya kurang sreg [di manakah posisi saya? :)]. Lain halnya dengan "dog tag", yakni liontin monil berukir nama, nomor induk dan golongan darah, yang sejauh saya tahu bisa diterima semua kalangan. Oh ya, dalam Kompas Minggu kemarin [12/06/05], kartun Benny & Mice mengangkat soal pening asu itu.
Bagaimana dengan kumpul kebo, yang berarti kumpul kerbau? Apakah itu dimaksudkan sebagai sepasang kerbau atau seorang manusia berkumpul dengan seekor kerbau? Saya tak tahu. Yang saya tahu, istilah itu sebetulnya lama, sudah ada dalam kosa kata Jawa -- seperti halnya "lembu peteng" [kasus seorang wanita hamil di luar nikah, tak jelas siapa prianya -- hehehe, ginian pernah jadi gosip politik kethoprak, misalnya dalam kasus wartawan Rey Hanityo, tahun 70-an]. Sebelum kelompok studi Dasakung di Yogya, tahun 80-an, memopularkan istilah kumpul kebo, istilah ini setahu saya sudah dipakai oleh timnya Masri Singarimbun, antropolog pemuka studi kependudukan, untuk variabel status perkawinan.
Jadi? Kumpul kebo, sebagai istilah, memang hidup. Masih fungsional, karena masih ada sisi kehidupan yang diwakili oleh istilah itu. Orangtua saya bilang "samenleven". Tapi bolehkah orang menggunakan istilah alernatif? Bagi saya boleh saja. Bahwa penggunaan istilah lain itu bisa diartikan menoleransi sebuah perilaku [yang dianggap] tak baku, ya silakan. Saya jarang menggunakan istilah kumpul kebo. "Hidup bersama [tanpa nikah]", bagi saya cukup. Saya menghormati lembaga perkawinan. Tapi saya pun menghormati pilihan orang lain [dan mungkin kelak saya] dalam mengelola pertalian cinta kasihnya sebagai pasangan dewasa. Tentu saya pun menghormati pilihan kata yang dipakai, katakanlah, kalangan puritan. Lebih penting bagi saya bahwa sepasang manusia dewasa bahagia dalam jalinan cinta kasihnya, sepanjang tak mengganggu orang lain. Makanya aneh juga kalau negara mau campur tangan urusan privat.
Akhlak? Memang tugas setiap lembaga pengawal akhlak mulia untuk mengingatkan -- bukan menggebah -- sesuai peran profetiknya. Tentu, termasuk dalam kawasan ini adalah korupsi dan perusakan lingkungan. Jangan sampai ketika menyangkut korupsi maka kilah pemangku moral adalah, "Jangan ikut menghakimi karena belum ada keputusan hukum tetap, lagi pula yang menentukan bersih tidaknya dia kan Hakim yang Tertinggi" -- sambil menerima sumbangan koruptor dan perusak lingkungan. Kok bisa? Yah... ini cara paling gampang, aman, sekaligus tampak bijak tapi gombal [tentu termasuk saya]: janganlah ikutan menjadi hakim untuk perkara yang kita tak tahu persis. Untuk kumpul kebo, atau soal-atas-nama-susila lainnya, masing-masing dari kita [termasuk saya] merasa jadi polisi yang baik dan maha tahu.
 |  |  | lantip June 15, 2005 08:28 PM PDT
sebenarnya ndak berani komentar :( tapi saya gatel pingin ngomong:
manusia memang suka menilai, selain para guru yang tugasnya memberi nilai. :( |  |
  |  |  | Qky June 15, 2005 03:32 PM PDT
kalo ada kumpul gombal, pasti seru tuch, Paklik |  |
  |  |  | rio menajang June 15, 2005 01:55 PM PDT
Bahasa yang hidup dan yang dipergunakan masyarakat memang tidak sama dengan bahasa yang ditata oleh para pemangku bahasa. Nilai, norma, dan moral yang hidup juga ternyata tidak sama dengan yang yakini oleh para pemangkunya.
Paling celaka memang saat para petinggi negara menjadikan bahasa bukan sebagai cermintan kebenaran, menyampaikan apa yang terjadi. Tetapi bahasa menjadi alat untuk memanipulasi.
Mungkin itu persoalannya, sesuatu yang lepas dari hakikatnya dan menjadi alat semata.
(bingung mencari padanan "posting", bisa bantu?) |  |
  |  |  | coldplaythepolice June 15, 2005 11:02 AM PDT
denger kata "kumpul kebo" selalu jadi inget cerpen kuntowijoyo yg "jejak nabi nuh" aduh duh critane dan endingnya gak kuku.. |  |
  |  |  | luwak June 15, 2005 10:41 AM PDT
manusia itu termasuk kewan apa sih gan? hm, kebo.. cita2 saya numpak punggung kebo belum kesampaian sampai sekarang. |  |
  |  |  | triesti June 15, 2005 04:11 AM PDT
mbah, sekarang jarang deh disebut samenleven... biasanya samenwonen (tinggal bersama).
Buat saya sih terserah masing²... udah gede² kan.. masa semua (incl. negara) mau ikut campur sih, kayak yg ikut campur ngga punya masalah dan suci aja. schijnheilig sekali
|  |
  |  |  | hangsip kelurahan June 15, 2005 03:34 AM PDT
knapa harus kumpul kebo? bukannya kumpul kelinci atawa kumpul bocah ya?! |  |
  |  |  | wongiseng June 14, 2005 11:10 PM PDT
Lha iya lucu juga ya pakde, mendahului hakim tertinggi (yg sebenernya manusia saja) tidak berani, tapi mendahului Yang Maha Tinggi untuk menjudge orang malah berani. |  |
 |
Previous Entry * Home * Next Entry
|