KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    14.6.05 | 19:35
    Kobahabitasyong 2 Kerbau
    www.africancraftsmarket.com

    BAHASA, dalam hal ini pilihan kata, menunjukkan posisi pengucapnya. Jadi kalau majalah sekelas Tempo pun memakai istilah "mantan teman kumpul kebonya" [Hukum, 12 Juni 2005 -- versi digital hanya untuk pelanggan] tentu punya alasan. Begitu pula SCTV beberapa bulan lalu -- meski barangkali itu sekadar meneruskan pilihan kata dari sumber berita. Atau Samarinda Pos ketika mengungkap kasus narkoba awal bulan ini.

    Apapun yang mengambil kata dari dunia satwa, bagi sebagian orang, kadang dianggap menghina. Saya dulu senang menggunakan istilah "kandang monyet" atau "rumah monyet", karena istlah itu yang pertama saya kenal, untuk menyebut gardu jaga militer. Sekarang saya masih menggapnya enak, meski jarang menggunakan, bahkan baru ingat ketika mengetik tulisan ini. Tapi kalangan militer, termasuk menwa, tampaknya kurang sreg [di manakah posisi saya? :)]. Lain halnya dengan "dog tag", yakni liontin monil berukir nama, nomor induk dan golongan darah, yang sejauh saya tahu bisa diterima semua kalangan. Oh ya, dalam Kompas Minggu kemarin [12/06/05], kartun Benny & Mice mengangkat soal pening asu itu.

    Bagaimana dengan kumpul kebo, yang berarti kumpul kerbau? Apakah itu dimaksudkan sebagai sepasang kerbau atau seorang manusia berkumpul dengan seekor kerbau? Saya tak tahu. Yang saya tahu, istilah itu sebetulnya lama, sudah ada dalam kosa kata Jawa -- seperti halnya "lembu peteng" [kasus seorang wanita hamil di luar nikah, tak jelas siapa prianya -- hehehe, ginian pernah jadi gosip politik kethoprak, misalnya dalam kasus wartawan Rey Hanityo, tahun 70-an]. Sebelum kelompok studi Dasakung di Yogya, tahun 80-an, memopularkan istilah kumpul kebo, istilah ini setahu saya sudah dipakai oleh timnya Masri Singarimbun, antropolog pemuka studi kependudukan, untuk variabel status perkawinan.

    Jadi? Kumpul kebo, sebagai istilah, memang hidup. Masih fungsional, karena masih ada sisi kehidupan yang diwakili oleh istilah itu. Orangtua saya bilang "samenleven". Tapi bolehkah orang menggunakan istilah alernatif? Bagi saya boleh saja. Bahwa penggunaan istilah lain itu bisa diartikan menoleransi sebuah perilaku [yang dianggap] tak baku, ya silakan. Saya jarang menggunakan istilah kumpul kebo. "Hidup bersama [tanpa nikah]", bagi saya cukup. Saya menghormati lembaga perkawinan. Tapi saya pun menghormati pilihan orang lain [dan mungkin kelak saya] dalam mengelola pertalian cinta kasihnya sebagai pasangan dewasa. Tentu saya pun menghormati pilihan kata yang dipakai, katakanlah, kalangan puritan. Lebih penting bagi saya bahwa sepasang manusia dewasa bahagia dalam jalinan cinta kasihnya, sepanjang tak mengganggu orang lain. Makanya aneh juga kalau negara mau campur tangan urusan privat.

    Akhlak? Memang tugas setiap lembaga pengawal akhlak mulia untuk mengingatkan -- bukan menggebah -- sesuai peran profetiknya. Tentu, termasuk dalam kawasan ini adalah korupsi dan perusakan lingkungan. Jangan sampai ketika menyangkut korupsi maka kilah pemangku moral adalah, "Jangan ikut menghakimi karena belum ada keputusan hukum tetap, lagi pula yang menentukan bersih tidaknya dia kan Hakim yang Tertinggi" -- sambil menerima sumbangan koruptor dan perusak lingkungan. Kok bisa? Yah... ini cara paling gampang, aman, sekaligus tampak bijak tapi gombal [tentu termasuk saya]: janganlah ikutan menjadi hakim untuk perkara yang kita tak tahu persis. Untuk kumpul kebo, atau soal-atas-nama-susila lainnya, masing-masing dari kita [termasuk saya] merasa jadi polisi yang baik dan maha tahu.


    lantip
    June 15, 2005   08:28 PM PDT
     
    sebenarnya ndak berani komentar :( tapi saya gatel pingin ngomong:
    manusia memang suka menilai, selain para guru yang tugasnya memberi nilai. :(
    Qky
    June 15, 2005   03:32 PM PDT
     
    kalo ada kumpul gombal, pasti seru tuch, Paklik
    rio menajang
    June 15, 2005   01:55 PM PDT
     
    Bahasa yang hidup dan yang dipergunakan masyarakat memang tidak sama dengan bahasa yang ditata oleh para pemangku bahasa. Nilai, norma, dan moral yang hidup juga ternyata tidak sama dengan yang yakini oleh para pemangkunya.

    Paling celaka memang saat para petinggi negara menjadikan bahasa bukan sebagai cermintan kebenaran, menyampaikan apa yang terjadi. Tetapi bahasa menjadi alat untuk memanipulasi.

    Mungkin itu persoalannya, sesuatu yang lepas dari hakikatnya dan menjadi alat semata.

    (bingung mencari padanan "posting", bisa bantu?)
    coldplaythepolice
    June 15, 2005   11:02 AM PDT
     
    denger kata "kumpul kebo" selalu jadi inget cerpen kuntowijoyo yg "jejak nabi nuh" aduh duh critane dan endingnya gak kuku..
    luwak
    June 15, 2005   10:41 AM PDT
     
    manusia itu termasuk kewan apa sih gan? hm, kebo.. cita2 saya numpak punggung kebo belum kesampaian sampai sekarang.
    triesti
    June 15, 2005   04:11 AM PDT
     
    mbah, sekarang jarang deh disebut samenleven... biasanya samenwonen (tinggal bersama).

    Buat saya sih terserah masing²... udah gede² kan.. masa semua (incl. negara) mau ikut campur sih, kayak yg ikut campur ngga punya masalah dan suci aja. schijnheilig sekali

    hangsip kelurahan
    June 15, 2005   03:34 AM PDT
     
    knapa harus kumpul kebo? bukannya kumpul kelinci atawa kumpul bocah ya?!
    wongiseng
    June 14, 2005   11:10 PM PDT
     
    Lha iya lucu juga ya pakde, mendahului hakim tertinggi (yg sebenernya manusia saja) tidak berani, tapi mendahului Yang Maha Tinggi untuk menjudge orang malah berani.
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive