![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
30.4.05 | 01:01
Trotoar Sepi Pelintas
UNTUK berpapasan dua orang langsing masih ada sisa ruang. Diteduhi pepohonan yang kalau pagi diriangi kicau burung. Diapit oleh kepanjangan Kali Ciliwung dan jalan raya yang sering macet bahkan menjelang tengah malam. Tapi bentang panjang paving block trotoar itu jarang dilintasi orang. Jarang, bukannya belum atau tidak pernah. Dilintasi dalam arti berjalan membelah. Kalau dilewati dalam arti ada orang berjalan memotong tentu saja sering, teramat sering, bahkan tak henti dalam 24 jam -- tapi hanya pada titik tertentu, yang bersiku sentuh dengan jembatan pengangkang kali untuk pejalan kaki. Jika kau bingung membayangkan belah dan potong, ingatlah Pak Tukang menggergaji papan. Membagi papan dalam lonjoran panjang, tapi hasilnya lebih sempit, itu membelah. Membagi papan menjadi beberapa bagian berlebar sama, itu memotong. Trotoar itu jarang dilintasi orang, jarang dilalui searah belah papan. Trotoar itu hanya bagian dari jalan raya. Trotoar yang itu teduh. Setahuku aman, tak ada penodong, pencopet maupun perampas ponsel; tak seperti di jembatan penyeberangan sejauh hampir satu kilometer dari situ. Trotoar yang sepi pelintas. Dia hanya jalan kecil. Dia juga menyaksikan banyak hal di sekitarnya. Penjudi kuyu yang keluar dari pintu berkaca gelap, nona yang melambai pada dini hari tawarkan kehangatan sesaat bila perlu memberi isyarat dengan menjepitkan jempol tangan di antara telunjuk dan jari tengah sehingga membuat istriku terperangah, tas kresek berjejal belanjaan yang tertenteng dari minimarket 24 jam, sendawa kenyang dari bermacam kedai makanan, punggung-lengan putih mulus berkilat peluh terbalut tanktop yang menghambur dari diskotek, sampai mobil yang tercebur ke sungai karena pengemudinya mabuk padahal jalanan macet. Trotoar itu. Sepi pelintas. Hanya salah satu dari sejumlah juluran penampung langkah kaki orang-orang. Tapi hidup memang soal pilihan. Kalau boleh memilih, mata kaki mungkin ingin mencoba jalan lain, meski jalan itu sepi. Mata kaki. Mata kepala. Mata hati. Belum tentu sekata dan saling peduli. Trotoar itu, kawan. Trotoar sepi di tengah keramaian kawasan yang tak pernah tidur. Pernahkah kau melintasinya?
Previous Entry * Home * Next Entry |
||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||