KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    28.4.05 | 01:15
    Haree Geeneeee... tanpa TV?
    tivi, teve, tipi

    PUTRI sulung saya heran sekaligus panik. "Hih! Ih! Ngeri! Pak, Pak! Apppaaa itu Pak?" Saat itu dia masih kelas satu SD. Petang itu di layar TV, saat jam tayang utama, tampak seseorang pria diseret dan dianiaya sekelompok orang. Tak ada waktu untuk menjelaskan. Saya langsung mengambil remote controller, memindahkan channel. Saya sendiri shocked waktu itu.

    Ini bukan persoalan kenapa rumah kami begitu kecil, sehingga ketika saya menambah ruang di belakang, yang satu sisinya tak berdinding, dan ternyata nyaman sebagai ruang makan, maka TV pun berpindah ke situ. Di mana pun letaknya, pesawat TV telah memindahkan sebuah dunia luar ke dalam ruang domestik saya. Dari panggung hiburan enteng segar menyilaukan sampai entah apa yang kita yakini sebagai realitas.

    Sebuah kotak sihir telah saya -- tepatnya: kami -- taruh tanpa menghapal mantera dan semuanya mengalir dari situ. Sebuah kotak, yang di banyak tempat jika kadung menyala susah untuk dipadamkan, apalagi jika mata pemelototnya berganti orang. Memang, saya jarang menonton TV. Dalam seminggu paling banyak dua jam, tapi lebih sering kurang dari itu. Di kantor saya hanya mendengarkan TV, karena letaknya dekat pintu ruang saya. Sesekali kalau lewat saya menatapnya.

    Tidak, tidak. Saya tidak anti-TV. Makin banyak stasiun pun saya suka, meski tak menontonnya. Saya tetap menghargai mereka yang begitu masuk rumah, juga kamar hotel, langsung menyalakan TV. Saya menghargai orang yang bekerja di stasiun TV, sebuah media yang berongkos produksi besar sehingga harus beriman kepada rating dari pekan ke pekan agar duit tak hangus. Tentu saya pun menghargai mereka yang bersikap kritis terhadap TV, baik atas nama diri sendiri maupun khalayak. TV ditujukan untuk publik maka hak masyarakatlah untuk mengontrolnya -- sungguh berbeda kasusnya dari tetangga yang memutar video kesukaannya di ruangnya sendiri dan tak mengganggu orang lain. Meski tak sepaham, saya tetap menghargai kunci, yang seperti tahun lalu, juga mengampanyekan pekan tanpa TV.

    Saya tak perlu ikut pekan tanpa TV. Saya tak merasa perlu membawa remote conroller ke manapun untuk merampas kemerdekaan orang lain yang sedang asyik men-TV. Kapan pun saya mau atau tak mau menontonnya, TV boleh saja menyala. Tapi kalau tak ada yang menonton atau mendengarnya, ya saya matikan saja, supaya hemat listrik. Ah, tidak sehebat itu saya. Kalau menginap di hotel bagus, karena diongkosi, saya juga boros setrum. Lampu kamar boleh padam, tapi TV tetap menyala sebagai teman tidur pengganti radio. Pagi bangun lihat tank meletupkan mesiu besar tanpa tahu itu apa -- saya lupa itu BBC atau CNN. Pagi setelahnya bangun, sudah ada balapan kuda -- kayaknya sih ESPN. Pagi berikutnya lagi bangun, melihat wanita cantik lenggak-lenggok di catwalk memperagakan lingerie -- oh, ternyata Fashion TV.

    Lingerie terawang tipis bertali itu menyampaikan pesan: kalau tak mau menonton, gantilah saluran. Penonton di tempat lain punya suara: memang saya punya senjata bernama remote controller, tapi itu bukan pembenar bagi sampeyan untuk menyiarkan apa pun yang sampeyan suka.

    Jika masalahnya adalah pembodohan, maka TV tak sendirian. Begitu banyak penyaji kebodohan di sekitar kita, Anda dan saya. Blog ini pun mungkin termasuk penyaji dan penular kebodohan. Tapi saya yakin, setiap orang medeka berhak menentukan mau dibodohi atau tidak -- dengan maupun tanpa peringatan dari orang lain. Bodoh dan pintar, membodohi dan memintarkan, kadang hanya soal tafsir yang sewenang-wenang.


    nikk yeah!
    May 2, 2005   04:36 AM PDT
     
    aah... tipi lagi.. tipi lagi...
    pusiiiingg pusiiingg......
    boit
    April 28, 2005   05:48 PM PDT
     
    kalo ngga' ada tipi, nonton infotainment dimana dong ? kita jadi ngga' gaol gitoh dong..


    atta
    April 28, 2005   03:16 PM PDT
     
    hidup TV (kecuali sinetron yg pake melotot2 dan usaha pembunuhan yg "ajaib")

    \'ka
    April 28, 2005   02:11 PM PDT
     
    ditto!!!!... LAST PARAGRAPH is very well said!!!!!!
    sop buntut
    April 28, 2005   01:31 PM PDT
     
    pak de, kok nadanya ga tegas sih, timbang sana, timbang sini...kaya GM aja. emang bagusnya tv tu apa sih?
    fade
    April 28, 2005   10:32 AM PDT
     
    jaman dulu manusia dianggap sebagai bagian dari alam. Sekarang manusia adalah pusat alam, inersia. Tiap hari dijejalin image yang silih berganti. Begitu menurut buku primbon yang pernah saya baca.
    mpokb
    April 28, 2005   10:16 AM PDT
     
    di kantor aye banyak tipi, tivi, teve dan telly, tapi aye jarang nonton tipi, apalagi sejak ngeblog.. :D
    fyi, sejak sekitar 1,5 tahun lalu ada milis indonesian tv watch yg dirintis sesama konsumen peduli tipi, tp aye gak tahu apakah organisasinya udah terbentuk (?)
    naladipes
    April 28, 2005   09:29 AM PDT
     
    beberapa wkt lalu krn satu & lain sebab saya - eh kami - sepakat tidak "mengadakan" tipi di bawah atap rumah kami. dasar tinggal di komplek perumahan berbatas dinding sahaja, maka sdh jamak ada tetangga yang peduli sangat dgn apa-apa yang ada dibalik pintu tetangganya. sebuah rasa cinta juga. ketika tahu tak ada kotak sihir di ruang rumah kami, muncul pertanyaan lucu; "aliran agamanya apa sih?" waduh!!! :D ada hubungan juga tipi dan agama.. hahaha
    Qky
    April 28, 2005   09:08 AM PDT
     
    saya juga pernah membahas ini, Oom. justru pinter-pinternya kita lah. kalau perlu ? yak, ditonton, kalo ngga ? main PS bola aja mendingan hehehehe
    anak-anak ? anak-anak saya ngga pernah jauh dari spongebob, dora, blue, dan power rangers. mentok-mentok saluran masa depan, spacetoon.
    didats
    April 28, 2005   08:35 AM PDT
     
    saya tuh sbenernya ndak suka akan tipi...
    tapi gimana kalo mo nonton bola??

    :D
    Zul
    April 28, 2005   07:23 AM PDT
     
    Bagi yang punya kedewasaan berpikir seperti pakde kere tentu tak masalah. Tapi bagaimana dengan yang masih gamang memilih sistem nilai yang bermanfaat?

    Orang secara semena2 membandingluruskan dengan umur - padahal bisa jadi seorang tua lemah dalam menjatuhkan pilihan. Bahkan diri sendiri (yang kita anggap sudah dewasa) setiap saat butuh masukan dari luar demi kebaikan, bisa karena lupa atau keterbatasan memandang persoalan.

    Pakde akhirnya perlu merebut remote dari si putri yang panik. Saya mungkin melakukan itu (barangkali "merebutnya" pake sayang :) pada istri yang berlebihan menonton sinetron atau infotainment, sebagaimana saya harapkan dia bertindak sama jika saya menghamburkan waktu tidak melewatkan satu pun pertandingan bola, 3 malam setiap pekan :).
    Saya suka itu ...
    April 28, 2005   03:56 AM PDT
     
    alinea ... eh paragraf terakhir ... :)
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive