![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
21.2.05 | 09:11
Trotoar Lebar untuk Pedestrian Trotoar lebar. Minimal delapan meter. Alangkah nyamannya. Pemilik gedung malah diuntungkan karena aksesnya gampang, sehingga kalau lantai dasar buat kafe, kedai buku/majalah, maka ruangnya lebih gampang dijual [asal murah], karena kantor biasa tak mau mepet dengan trotoar. Setidaknya begitulah asumsinya.:) Supaya pelintas tak mepet ke dinding untuk melongok ruang dalam, ya sediakanlah tanaman seperti yang terpasang sekarang. Bagaimana kalau ruang di lantai dasar jadi akuarium seperti di BPPT? Nggak soal. Jakarta terlalu sibuk, hanya sedikit orang yang memperhatikan, apalagi memotret apa yang berlangsung di balik dinding kaca pada lantai dasar. Kecuali ruang itu buat kafe, ada mini skirt, black stockings, stiletto high heels... Kepentingan pelaku eksibisionisme dan voyeurism pun bertemu. :D Bagaimana dengan keamanan? Perusuh atau apapun namanya [oh ya: plus gelandangan] adalah muara dari sejumlah proses dalam masyarakat. Itu bukan sepenuhnya tanggung jawab arsitek dan pemilik gedung. Dalam jangka pendek, ya tugas satpam dan tentara bayaran untuk menghalau mereka. Tentu ditambah sistem pengamanan -- dari alarm, CCTV sampai yang lebih kompleks -- yang dikelola dengan benar. Tapi sayang, trotoar di depan kompleks Bank Indonesia masih sempit, padahal BI masih punya lapangan yang luas, sehingga mundur sedikit mestinya bukan masalah. Juga sayang, trotoar lebar untuk pejalan kaki masih boleh dilalui mobil, seperti saya jumpai di depan gedung Departemen Agama. Pada suatu akhir pekan, sore sebelum jam bubaran kantor, saya mencoba menikmati peran sebagai pejalan kaki di pusat bisnis Ibu Kota. Untuk sementara sedikit agak mendekati lumayan. Klik gambar untuk memperbesar supaya dapat ukuran dan kualitas yang jauh dari lumayan.
Previous Entry * Home * Next Entry |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||