![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
11.12.04 | 13:46
Pohon Apa? Saya, dan Anda, bisa menggambar pohon. Gampang. Tapi saya ternyata tak kenal banyak pohon. Kemarin sore, dalam perjalanan bersama teman sekantor merayapi kemacetan, saya bertanya nama pohon di pinggir jalan, "Itu mirip beringin. Apa namanya?" Jawabannya beragam, antara lain angsana, lantas ada yang bilang, "Kalau yang di Cempaka Putih itu tanjung." Sebagian nama pernah saya dengar, ada yang jadi nama jalan. Tapi yang mana pohonnya? Ternyata tak semuanya berjejak secara fotografis dalam benak saya. Ada sosok pohon yang saya kenal, tapi saya tak tahu namanya. Misalnya pohon tinggi yang saya lewati setiap pagi, sebagai tetenger bahwa batas kemacetan segera berakhir. Kalau pucuk pohon itu sudah terlihat, saya merasa tenang.Jujur saya akui, serapan sastra saya minim. Sangat miskin. Dalam rentang penggaris sentimeter, bukan inci, serapan saya antara 0 dan 1 mm, tapi lebih mepet ke 0, lebih sempit daripada garis tertipis rapido. Kalau Anda menggunakan ukuran desktop publishing, maka ketebalannya di bawah hairline. Apa urusannya sama pohon? Sejauh saya pernah membaca selintas, karya asing [melalui versi terjemahan Indonesia] lebih enak mendiskripsikan tanaman. Seolah penulisnya akrab dengan nama banyak pohon dan bunga. Bahwa dia harus meriset dulu, sebelum mencantumkannya dalam karya, itu masalah dia. Pokoknya, karyanya "lebih vegetatif". Untuk buku sini, juga cerpen, sejauh yang saya baca [ingat: serapan saya miskin], vegetasi terinci jarang menjadi bagian dari diskripsi. Memang sih, orang macam Ahmad Tohari bisa lancar memindahkan suasana pedesaan karena dia mengenal lingkungannya dengan baik. Orang semacam Wildan Yatim mestinya juga bisa karena akrab dengan "ilmu hayat". Mochtar Lubis juga. Bahkan dia mewariskan buku pengenalan pohon hutan untuk anak-anak. Kalau saya jadi penulis fiksi, mana dikejar setoran pula, mungkin hanya akan merujuk pohon yang lumrah: kelapa, beringin, flamboyan, mahoni, cemara, akasia, mangga [entah jenis apa], dan rambutan. Itu sudah bagus, nggak sekadar "di bawah pohon tinggi itu" atau "di bawah keteduhan pohon itu". :) Bukalah semua kliping tentang Megawati bicara di halaman rumah Kebagusan, sebelum sampai setelah tak menjadi presiden. Di dekat pohon apakah dia berdiri? Harap diingat, Mega menanam banyak pohon. Kakak iparnya, Henny Guntur, menanam lebih banyak pohon lagi, sebagian [konon] langka. Carilah kliping berita kepresidenan, siapapun presidennya, yang menceritakan presiden berjalan kaki di taman pengitar Istana Merdeka dan Istana Negara. Adakah yang menyebut nama pohon? Saya belum menemukan bukti untuk jadi hyperlink, tapi seingat saya berita luar negeri yang featurelike itu lebih akrab sama pohon. Presiden Amrik punya gawe di Camp David, ada nama pohon disebut dalam berita. Saya kurang mengenal pohon. Saya kerepotan ketika harus memperkenalkan nama pohon kepada anak-anak saya: pohon sebagai bagian dari keseharian, bukan pohon dalam kunjungan turistik ke Kebun Raya Bogor. Di sebuah bekas tanah pertanian, nun di selatan sana, bertahun silam, yang terpisah jauh dari keramaian, saya tanyakan beberapa nama pohon, juga guguran daun menguning saat musim rontok, kepada seorang gadis kota besar. Dia bisa menjawab. Saya tanya, "Memang di dekat rumahmu ada? Kok kamu bisa tahu?" Dia tertawa kecil, "Ya tahulah. Sejak SD kami diajari mengenal nama pohon." Dia bertanya, pohon apa sajakah yang tumbuh di rumah saya? Saya jawab, "Aku nggak punya halaman. Rumahku kecil." Dia mau maklum, tapi menanya pohon apa yang banyak ditanam di jalanan kompleks perumahan saya. Saya lupa menjawab apa. Tapi ini bocoran untuk Anda: tak banyak pohon ditanam, kalaupun ditanam saya juga tak tahu apa namanya. Dia cukup santun untuk tak menggugat, "Lho bukannya Indonesia itu negeri tropis?"Nun di utara, saya menanyakan nama pohon kepada sopir bus, sopir taksi, teman perjalanan, pemandu, penyaji cappuccino dan entah siapa lagi. Mereka bisa menjawab. Saya bertanya supaya punya modal buat gegayaan: menyisipkan nama pohon dalam cerita perjalanan dan bikin kapsi foto yang sok puitis. Penyebutan nama dengan setengah hati, tanpa penghayatan. Menyebut maple kayaknya keren karena nggak ada di Jakarta. Menyebut birch tree, kayaknya sudah paham klaim pabrik kosmetik tentang produk alaminya. NB: gambar pohon saya comot dari sebuah halaman yang menceritakan daur hidup sebatang pohon dalam setahun.
Previous Entry * Home * Next Entry |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||