![]()
KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi. TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka. MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu? MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya. CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak... |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]()
Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.Hit Counter JAGAT GOMBAL KETERSANGKUTAN ![]()
![]() KABAR BUNGKUSAN AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.KABAR KOCOKAN SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.![]() Free Shoutbox |
21.9.04 | 00:14
Syarat Kerja: Gaji Okéh, Lingkungan Pangkéh Saudara jauh saya, cewek, meski baru lulus, menolak kerja di sebuah lembaga konsultan. Sebagai fresh graduate, gajinya lumayan. Tapi dia tetap ogah. Alasannya: "Gile apa? Kantornya di tengah perumahan! Kapan gue bergaulnya? Kapan nemu cowok? Makan siang diurus katering atau tinggal telepon. Tapi gaulnya gimana? Masa hiburan cuma ke Indomaret sebelah rumah?" Bagi dia, biar gaji akhirnya habis buat kos dan beli baju plus biaya lunch di tempat cozy, asal lingkungannya di bizniz district, itu bukan soal. Kenapa? Pertama: bisa bergaul, ketemu banyak orang macam-macam, gonta-ganti, sejak dari lift sampai nanti siang waktu istirahat dan sore turun ke lobi, syukur ketemu jodoh. Kedua: bisa mengikuti tren fesyen. Ketiga: bisa dapet bisikan lowongan, tanpa harus mengandalkan iklan di koran dan karir.com. Wah, boleh juga tuh. Saya juga pengin jadi petugas cleaning service di tempat mentereng, tapi sayang bos saya itu bilang saya cocoknya jadi penjaga mercusuar atau penjaga taman nasional: yang fenting kherjah, gaul itu nomor 99. Wadoooohhh... Kejam nian. Untung dia nggak bilang, "Gaji tuh nomor 999, Bro!" Saya teringat dua teman saya yang jadi juragan. Yang pertama pernah bikin lembaga riset sama temannya. Kantornya di tengah perumahan. Nyari sekretaris susah banget, padahal imbalan oke. Ternyata alasan para pelamar sama: nggak cocok sama lingkungan. Saya maklum, karena para periset di situ adalah kaum jins belel dan oblong dan sneakers, yang terbiasa dengan musik metal bahkan sesekali kepergok asyik dengan lintingan daun antah berantah. Smart but underground, gitulah. Teman saya lainnya pernah pasang iklan lowongan di The Jakarta Post. Selain ngantor normal sebagai pegawai biasa seperti biasa, dia juga mengurusi lembaga nirlaba bersumber anggaran dollar [ehm, waktu krismon mereka malah makmur]. Pelamarnya banyak, tapi teman saya itu susah dapet sekretaris. Akhirnya dapat, sekretaris senior, yang sempat ngaso buat ngurusin anak. Lha tamatan akademi sekretaris, bisa saya maklumi, pada mundur. Soalnya biar imbalan melebihi layak tapi kantornya di tengah perumahan, mana orang-orangnya juga kaum jins belel dan oblong, kadang bercelana pendek, bacanya buku-buku tebal soal satra-politik-sosiologi-ekonomi-filsafat-gender [saya heran, kok mereka nggak pusing ya? bagusnya, mereka masih baca komik], diskusinya tinggi [habis, saya nggak paham sih]... Orang-orang itu bisa datang pagi, pulang pagi. Bisa datang siang, lalu cabut. Bisa datang malam, dari TIM atau Utan Kayu [atau HRC dan Bengkel atau tempat lain di Kemang], setengah mabuk, lalu tidur. Ketika internet belum marak, ke mana-mana dalam ransel mereka sudah ada notebook>. Ketika ponsel belum banyak, mereka sudah punya barang ajaib itu. Biar gitu, nona-nona cantik itu tetap menganggap mereka orang aneh yang susah dipahami... Lebih penting lagi: mereka nggak sekeren bos madya di Sudirman-Thamrin-Kuningan-SCBD yang rapi, berdasi, wangi, sebagian masih pria lajang [meski sudah tunangan]... Lebih mumet lagi, kantor itu selalu diawasi reserse, bahkan pager mereka saat itu disadap Intelpam Polda dan anak buah Prabowo [konon kabarnya sih, saya kan cuma sok tahu tempe!]. Yang pasti mereka bukan perakit bom. Kembali ke cewek famili saya tadi ya. Apa jodoh itu variabel [ciehhhh... keren nih istilahnya] dalam mencari pekerjaan? Dia bilang, "Mas ini gimana sih? Kalo selama kuliah kita meleset, putus mulu, lantas kerja sebagai jomblo di Jakarta, maka peluang dapet jodoh tuh semakin tipis. Waktu terbatas, irama kota supercepat, eh ngantor di perumahan, udah gitu temen sekantor udah tuwir, bapak-bapak, nah kapan dapat jodohnya?" Saya bilang, "Coba gih ngelamar jadi wartawati kayak beberapa temanku. Tiap hari keluar, ketemu orang, jadinya ada peluang buat nambah daftar calon... Atau kerja di production house, apa event organizer, funky tuh lingkungan kerjanya, gitu juga mitra kerjanya... Pokoknya banyak selingan." Dia menyergah, "Aku nggak suka nulis, nggak suka kerja lapangan." Waks! Selamat hari Selasa. Selamat mengawali pekan, bagi yang kemarin dapat libur.
Previous Entry * Home * Next Entry |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
© Kéré
Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober
2005. Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||