KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    15.9.04 | 05:34
    SOHO
    ada versi rasa enteng dan tembaco. pernah nyoba?Kembali datang pertanyaan itu. Apa tak ingin aku kerja di rumah. Ingin. Apalagi ketika pekerjaan kantor begitu mendera. Begitu berjejal dan kompleks lalu lintasnya. Satu mata rantai outsource putus, yang lain jadi berantakan. Seperi kemarin dan hari ini. Juga besok. Dan besoknya lagi. Semuanya berpacu dalam ketergesaan. Dengan gagap. Dengan friksi. Dan luka di hati orang lain tanpa kita sengaja. Selalu melapor ke banyak juragan. Ada batas ketika multitasking tak lagi nikmat. Kita bukan robot terprogram. Hmmm... Small office home office. Telecommuting. Tak ada kemacetan metropolitan keparat. Bisa hemat tak banyak jajan di luar [plus terbebas dari vetsin]. Hanya pergi seperlunya. Takkan tua di jalan. Tapi aku jadi gamang karena tampaknya jadi tipis jarak antara ranah privat dan publik. Bersarung batik dengan sandal kulit beralas karet mentah cap Malioboro [ah, sok indis, sok eksotis, korban mooi indie, feodal, back to the past], sambil menikmati lintingan Javaanse Jongens [keren juga, ini tembakau terkabar pernah punya paviliun di North Sea Jazz Festival Den Haag], dalam lima ayunan langkah aku telah berada di kantor, tapi di bawah atap yang sama, dengan gema ting-ting mangkok penjaja bakso yang sama [aku tak tertarik mengudapnya] dan derum knalpot ojek butut yang itu-itu juga [adakah pengendaranya adalah produk cloning, karena mereka menjadi begitu generik, begitu pun bau apek jaketnya yang default]. SOHO, bayangan itu membuatku gamang. Dering telepon fixed line maupun selular berarti kerja dan kerja, order demi order, padahal berada di rumah. Wireless, cordless, kalau semuanya kelak terbeli dan aku instal, hanya menjadi jeruji bui yang tak tampak. Haruskah terpenjara di rumah sendiri? Rumah merangkap kantor? Kutimbang baik dan buruk. Sisi karikatural ["Kamu tuh apa saja pakai frame karikatural. Kenapa sih?" katamu] maupun sok filosofis [ternyata aku tak pernah bisa berpikir falsafati, cuma gegayaan saja]. Agak mengerikan. Agak membosankan. Sekian dasawarsa masyarakat, termasuk aku, telah terpola oleh persepsi perihal kerja kantoran: sesuatu yang bukan di rumah. Yang menyatu di rumah adalah toko kecil dan industri rumah tangga -- seperti penjahit di luar kompleks yang bernama dobel: Sinar Cahaya Tailor [kalau kutanya soal nama dobel itu, dia meringis saja], bertetangga dengan warung jamu pawang ular. Meninggalkan rumah berarti ada kesadaran untuk tak melangkah hanya bersarung atau berkolor, meski celana pendek dan mokasin masih boleh. Berkantor di rumah berarti menolak kedatangan beberapa penyandang anugerah keindahan ragawi baik untuk urusan dinas maupun sepertiga dinas atau sepenuhnya nondinas. Domestifikasi berarti hadangan pagar tebal, meski kebebasan telah direntang tanpa kendali gulungan meteran, tapi jaga hati jaga rasa haruslah tetap terpegang. Aku ingat nasihatku untuk sejawat yang ingin bebas, tak ingin kerja di kantor, tak ingin diatur atasan, tak mau dikontrol teman selevel. "Di hutan, kamu tertarik?" Dia menjawab, "Ya. Asyik. Aku nggak perlu berkompromi dengan apapun dan siapapun! Aku ingin!" Kubilang, "Tarzan pun harus berkompromi dengan harimau, monyet, ular, belukar, sungai, angin, hujan, matahari dan bulan. Apalagi Tarzan Srimulat." Kembali ke masalahku. Untuk apa sebenarnya kerja? Nafkah? Ya. Aktualisasi? Ya. Sosialisasi? Ya. Kebebasan? Aha! Kutengok langkah terlewat  di belakang ketika aku bekerja apa saja, termasuk memburuh, dan bisa bersikap merdeka selayaknya pembantu rumah tangga: kalau tak cocok di hati maka besok juga keluar, tinggal pamit majikan. Ehm, dari kerja [kantoran] kita bisa belajar apa saja yang baru dan menarik? Mungkin, tapi toh lama-lama daya serapku terbatas, kejenuhanku lebih cepat merayap, merendam tubuh sampai ke jakun. Terlalu banyak mau, karena sebetulnya bekerja pas banderol pun tak akan dipecat, sampai kelak entah kapan hari pensiun tiba, dan ketika bertemu sesama maka yang didiskusikan adalah asam urat, tensi, diabetis, kolesterol, dan mungkin seks kalau masih mampu? Entah. SOHO menggaji diri sendiri. Memensiun diri sendiri. Dengan dorongan bangun pagi yang meluntur, atau kalaupun bangun pagi waktu akan tergoda untuk bersantai dulu, mengayuh sepeda, mampir ke pasar membeli wortel, tomat dan timun untuk jus. Disiplin tangsi atau biara atau pesantren, alangkah beratnya.  Mmmm, adakah dari sebuan kandang bernama kantor aku juga menikmati pergunjingan, dalam arti ikut mencari dan memberikan kontribusi topik? Semoga tidak. SOHO hanya cocok untuk orang yang siap. Hari-hari ini aku kembali bercermin, dan tampaknya belum siap. Masih ada kemanjaan kerdil atas nama humanisasi sehingga masih membutuhkan orang berlabel office boy, penolong-pengingat-penata bernama sekretaris dan segala level mitra kerja -- termasuk juragan. SOHO berarti office automation, semuanya dikerjakan oleh mesin. Mesin-mesin kecil yang tak sanggup tampil cantik cerah pada Jumat sore dan Senin pagi, tak sanggup murung saat kalender hormonal menjemput. Mesin-mesin kecil dengan induk bernama server, yang tak mau diajak saweran beli gorengan. SOHO hanya layak, dan tak perlu dipikir panjang, ketika datang karena keterpaksaan, seperti saat krismon lampau. Tapi hmmm, haruskah itu datang melalui sebuah latar besar ekonomis nan pahit? SOHO, tapi bukan Soho yang di London, tempat aku pernah berteduh dari hujan di ruang temaram dengan pintu luar dinaungi neon sign pengundang rasa ingin tahu. Selamat hari Rabu. Terima kasih, aku tahu kau jadi pusing membaca teks berdesakan ini. Aku mengetikkannya terus tanpa menyentuh Enter.

    Posted by mishel @ 08/26/2005 01:10 AM PDT
    good page http://www.g888.com
    Posted by Name pipit @ 09/15/2004 05:24 PM PDT
    pak, saya suka baca blogta. Banyak ceritanya. Salam dari Makassar:)
    Posted by kéré kęmplu @ 09/15/2004 03:06 PM PDT
    pak isman,
    memang itu moral ceritanya. orang yang sudah melakukan pemerasan otot dan saraf mata untuk sesuatu yang percuma sudah sepantasnya diberi ucapan terima kasih. bayangkan, sudah buang waktu, masih pening pula... masa sih itu gak melakukan apa-apa? :)
    Posted by isman @ 09/15/2004 02:34 PM PDT
    Kalau langsung skip aja ke bagian bawah jadi Indonesia banget, ya? Dapet ucapan terimakasih padahal ga ngapa-ngapain.
    Posted by Brill @ 09/15/2004 10:38 AM PDT
    hihihi...yg baca seluruh artikel ngeselin dan musingin di atas, berarti benar2 penggemar blog ini. KEcanduan?
    Posted by atta @ 09/15/2004 09:24 AM PDT
    saya baru minus 3; tapi pegel juga bacanya. btw itu sinar cahaya tailor terima jait kebaya gak?
    Posted by mushrooms @ 09/15/2004 09:01 AM PDT
    oo sengaja to. Samfe mlotot mlotot gini bacanya. Tafi jgn mengasihani saya, biarfun saya sdh minus 6...
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive