KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    9.9.04 | 22:26
    Mereka Butuh Panggung
    Kenapa orang meneror? ::: Mereka butuh panggung, mereka cari perhatian, mereka ingin menyampaikan pesan. The bombing is the message. Bombing-nya itu sendiri cuma medium, bukan tujuan [tanyalah atta, yang pernah belajar ilmu komunikasi di Jalan Sutami: the medium is the message::: Haruskah ngawur dalam memilih sasaran, mengorbankan orang tak bersalah? ::: Mereka tidak ngawur, mereka justru memilih sasaran dengan teliti, termasuk sejumlah anonim yang harus dikorbankan secara acak -- ingat, yang namanya random sampling pun harus terencana -- atas nama tujuan yang diyakini mulia ::: Apakah masih akan muncul teroris baru? ::: Ya! ::: Kenapa? ::: Karena ada saja yang yakin bahwa tujuan bisa menghalalkan cara, the end justifies the means ::: Mereka gila? ::: Psikiater yang bisa menjelaskan.. ::: Mereka kejam... ::: Sebagian besar pelaku teror adalah kaum yang merasa telah menjadi korban kezaliman, penindasan, ketidakadilan. Mereka juga pernah menjadi korban teror oleh negara, oleh kekuatan lain yang tak sanggup mereka lawan dengan cara yang seimbang. Tak semua kelompok sipil sanggup menyerbu sebuah tangsi, atau mabes angkatan bersenjata, untuk mencari perwira dan panglima yang harus bertanggung jawab ::: Jadi, Mas mendukung mereka dong? ::: Tidak. Sama sekali tidak. Dan tak akan pernah... ::: Mengerikan. Masih akan muncul teroris baru ::: Memang. Itulah ancaman bagi peradaban. Tikaman terhadap upaya saling memahami antarmanusia, dan antarkelompok manusia, yang ditempuh berabad-abad. Selama ada penindasan, termasuk penindasan suatu negara terhadap negara dan bangsa lain, maka perlawanan akan terus mengeras, dan mengeras.... ::: Masih mengerikan. Dari manakah bibit teroris muncul? ::: Dari mana-mana. Termasuk anak-anak keluarga makmur mapan. Kebencian terhadap ayah, misalnya, bila digosok dengan ideologi atau keyakinan atau apapun yang sejenis, akan membentuk seorang pelawan, bukan pahlawan, yang memindahkan sosok ayah penindas kepada negara, industri, atau apapun yang mapan dan memegang hegemoni... ::: Masa? ::: Lihatlah beberapa teroris angkatan lama. Mereka dari kelas menengah, bukan anak proletar kesrakat ::: Siapa lagi yang bisa jadi teroris? ::: Semua orang, maksudku setiap bocah berpeluang menjadi teroris... Ketika mereka, dalam masa pertumbuhan dan pembentukan kepribadian, selalu dan selalu dibenarkan untuk merusak barang milik keluarga, mainan milik temannya, dan sarana umum selagi dirinya kesal, maka kita telah menambahkan bentangan karpet panjang pada persimpangan perjalanan hidup mereka. Karpet untuk menjadi teroris, menjadi orang yang boleh memaksakan kekerasan, apapun posisinya kelak di masyarakat. Karpet yang mengantarkan anak-anak kecil ke loket stadion kekerasan dan kekejaman ::: Dapatkah kita hentikan? ::: Sori, aku lagi banyak pekerjaan. Tak semua hal dapat aku terka, bahkan dengan cara paling naif, dogol dan sembrono sekalipun... Selamat malam. Besok TGIF. Kencan sama dia kan? ::: Aku udah putus sama dia... ::: Tapi dia bukan teroris kan? Paling pol dia hanya pernah  menyumpitkan racun cinta kepadamu, dan yang lainnya, tanpa diharap, tanpa dinyana, tapi sungguh nakal, melenakan ::: Itulah lelaki. Atau semua lelaki adalah teroris? ::: Aku sibuk. Bye!

    dakka
    May 15, 2006   09:45 PM PDT
     
    eh guwe mo nanya neh...
    eh maaf ya...
    kapan para teroris di:
    >teror
    >tindas
    >dan di perlakukan secara
    tidak adil

    thank`s


    DakkA
    ndaru
    September 13, 2004   03:12 AM PDT
     
    hehehe, bagus tulisannya bikin saya sadar ini semua seperti blunder yang gueeeeeedeeeeee banget trus disaut omongan "yaaa piye maneh...." sambil angkat bahu pasrah trus "mlencing" ilang makan siang di kantin ......
    kere kemplu
    September 10, 2004   03:01 PM PDT
     
    dear cici, thx 4 confession. ketika mereka merasa tak nyaman, saat itulah mereka jadi korban teror. tapi saat mereka mau, maka itulah yang disebut sindrom stockholm. atau mereka lagi jadi pattie hearst, putri si raja koran randolph hearst, membelot, ngikut penculik dan penyanderanya...



    huhahahahahahahahahahaha!
    cici
    September 10, 2004   11:37 AM PDT
     
    wah, kalo gitu aku sebenernya teroris juga dong...suka menebar pesona di antara pria-pria, tapi gak ada satu pun yang terjaring! :D
    kéré Imponk
    September 10, 2004   08:05 AM PDT
     
    kekek.. ada teroris angkatan lama juga ya, waah kaya' sastrawan :D
    ayu
    September 10, 2004   12:41 AM PDT
     
    ternyata teroris juga mengenal random sampling yak...

    TGIF apaan om?

    btw, ada salam balik dari pujaan saya ;-)
    kere kemplu
    September 10, 2004   12:04 AM PDT
     
    hussss... jangan main tuding lah.
    somay sepedah
    September 9, 2004   11:43 PM PDT
     
    iyah mas..wong bocah2 yg hidup di pesantren dan kenyang pelajaran tauhid aja bisa jadi terorejing...
    kere kemplu
    September 9, 2004   11:05 PM PDT
     
    beste sandra:

    iya dong...

    itulah indahnya hidup, karena tak semua manusia sama, karena setiap orang dewasa dapat memilah langkah... jengkel kepada pemerintah belanda, bukan alasan untuk mengebom rakyat belanda kan?

    aku yakin tak semua orang belanda menyebalkan, termasuk aparat pemerintahnya. yang swasta macam orang tiscali bv bisa menyebalkan, tapi itu bukan alasan ngebom kantor isp itu. tak semua orang di sini, siapa pun mereka, adalah gevaarlijke kerel.

    Sandra
    September 9, 2004   10:49 PM PDT
     
    Aku sering merasa bahwa aku korban dari kezaliman, penindasan, ketidakadilan pemerintah Belanda... dan dengan adanya berita seperti ini tidak mustahil aku akan akan benar2 menjadi korban kezaliman, penindasan dan ketidakadilan dari pemerintah belanda... tapi ta' pernah terbersit di pikiranku untuk menge-bom negara belanda...
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive